Pakubuwana XIV dan Laku Wahyu Keprabon
ASKARA - Penobatan KGPH Hangabehi sebagai SISKS Pakubuwana XIV di Keraton Surakarta Hadiningrat, 5 September 2026, sejatinya bukan hanya peristiwa pergantian takhta. Dalam pandangan Jawa, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar gelar dan singgasana: amanah yang harus dipikul melalui laku.
Sebab dalam kosmologi Jawa, kekuasaan tidak semata-mata dicari. Ia diyakini datang bersama tanggung jawab. Di situlah konsep wahyu keprabon menemukan maknanya. Bukan sekadar cahaya gaib yang membuat seseorang menjadi raja, melainkan perlambang bahwa kekuasaan harus disertai kejernihan batin, keteguhan laku dan kesediaan mengabdikan diri kepada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena itu, sebelum duduk di singgasana, seorang raja terlebih dahulu melewati jalan panjang simbolik: sembahyang, nyekar kepada leluhur, ruwatan, ziarah, hingga berbagai ritual yang diwariskan turun-temurun. Orang Jawa menyebutnya laku. Laku bukan sekadar perjalanan kaki. Laku adalah perjalanan batin.
Seorang yang hendak menerima amanah besar harus terlebih dahulu belajar membersihkan dirinya. Sebab bagaimana mungkin seseorang dipercaya menjaga jagat apabila ia belum mampu menjaga dirinya sendiri?
Di sinilah filosofi sangkan paraning dumadi menjadi penting. Manusia harus selalu ingat dari mana ia berasal dan ke mana akhirnya akan kembali. Setinggi apa pun kedudukannya, manusia tetap akan kembali menjadi manusia biasa di hadapan Sang Pencipta.
Maka takhta sesungguhnya adalah ujian. Bukan ujian tentang seberapa banyak orang yang tunduk, melainkan seberapa kuat seseorang menahan dirinya agar tidak mabuk kekuasaan.
Dalam tradisi Jawa dikenal pula istilah pulung, tanda simbolik tentang keberuntungan, kewibawaan dan legitimasi kepemimpinan. Namun pulung tanpa laku hanyalah simbol. Kewibawaan tanpa keteladanan hanya akan menjadi bayang-bayang kebesaran masa lalu.
Karena itu, penobatan Pakubuwana XIV semestinya dibaca bukan sebagai glorifikasi masa lalu, melainkan sebagai panggilan untuk menghidupkan kembali ruh kebudayaan Jawa.
Keraton bukan hanya bangunan, ia adalah ingatan. Ia menyimpan jejak perjalanan manusia Jawa dalam memahami hubungan antara manusia, Tuhan, alam dan sesamanya. Di dalamnya terdapat ajaran tentang tata krama, keseimbangan, pengendalian diri, penghormatan kepada leluhur dan kewajiban menjaga harmoni.
Hamemayu hayuning bawana bukan kalimat indah untuk menghiasi upacara. Ia adalah tanggung jawab peradaban, memperindah kehidupan, merawat keseimbangan dan tidak meninggalkan kerusakan bagi generasi yang akan datang.
Karena itu, seorang raja dalam tradisi Jawa idealnya bukan manusia yang semakin jauh dari rakyat karena ketinggian takhta. Justru sebaliknya, semakin tinggi kedudukannya, semakin dalam kewajibannya untuk ngemong, mengayomi, menjaga dan memberi ketenteraman.
Ada filosofi yang sangat kuat, "dadi ratu kudu bisa rumangsa, aja mung rumangsa bisa." Menjadi raja harus mampu merasa, bukan sekadar merasa mampu. Merasa getirnya rakyat, merasa keresahan zaman, merasa perubahan zaman, dan terutama merasa bahwa kekuasaan itu bukan miliknya sendiri, ia hanya dititipi.
Itulah sebabnya rangkaian penobatan Pakubuwana XIV menjadi menarik jika dibaca sebagai perjalanan spiritual. Dari masjid menuju makam leluhur, dari ruwatan menuju sumpah, dari ritual menuju singgasana. Seolah ada pesan bahwa sebelum seseorang menerima mahkota, ia harus terlebih dahulu menanggalkan ego.
Sebab dalam kebatinan Jawa, orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang mampu menaklukkan orang lain. Ia adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Dan mungkin inilah makna terdalam dari sebuah mahkota. Mahkota berada di atas kepala, tetapi beban sesungguhnya berada di dalam hati.
Bedhaya Ketawang yang hadir sebagai bagian dari kesakralan tradisi kemudian seperti menjadi penutup pesan zaman, bahwa kekuasaan yang lahir dari tradisi harus tetap memiliki hubungan dengan keheningan batin.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin justru keraton mengajarkan sesuatu yang semakin langka, diam untuk mendengar suara hati.
Pakubuwana XIV kini berdiri di simpang sejarah.
Di satu sisi ada leluhur yang harus dihormati. Di sisi lain ada zaman baru yang tidak bisa ditolak. Tantangannya bukan memilih masa lalu atau masa depan, melainkan mempertemukan keduanya tanpa kehilangan jati diri. Sebab tradisi yang hanya dipertontonkan akan menjadi artefak, tetapi tradisi yang dipahami dan dihidupkan akan menjadi jiwa sebuah bangsa.
Pada akhirnya, seorang raja tidak akan selamanya berada di singgasana. Keraton pun tidak selamanya berada dalam kemegahan yang sama. Waktu akan berjalan. Generasi akan berganti.
Yang tersisa hanyalah laku dan jejak. Maka jika benar wahyu keprabon adalah amanah, maka ukurannya bukanlah seberapa megah sebuah penobatan, melainkan seberapa teduh seorang raja setelah penobatan itu. Karena dalam filsafat Jawa, singgasana boleh meninggi, tetapi jiwa harus semakin merendah, sebab manusia datang dari ketiadaan, menerima amanah untuk sementara, lalu kembali kepada Sang Hyang Widi. Itulah sangkan paraning dumadi.
Dan di antara datang dan pulang itulah seorang manusia diuji. Apa yang telah ia lakukan untuk membuat dunia sedikit lebih baik daripada ketika ia datang?

Komentar