Gen Z atau Trah Sukarno? Dengarlah Sinisme
ASKARA - Mayoritas PAC di Kebumen memilih cucu Bung Karno sebagai pemimpin DPD PDI P Jateng lebih banyak karena darah biru daripada prestasi nyata. Apakah ini sinyal kebangkitan Gen Z penuh idealisme, atau sekadar politisasi garis keturunan yang nyaris menjegal demokrasi internal partai? Mari kita telaah dengan kritis, cerdas, dan tanpa basa basi.
Dukungan terbuka untuk Diah Pikatan Orissa Putri Haprani, yang akrab disapa Pinka Haprani, meluncur deras dari sebagian besar PAC di Kebumen dalam Rakercab PDI P Kebumen, Sabtu, 6 September 2025. Dari 26 PAC hadir, ia mengantongi 25 suara menjelma sebagai kandidat teratas pengganti Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul. Apakah ini pencapaian ketokohan atau sekadar warisan nama besar? (Kompas, 8 September 2025).
Mbak Pinka bukan sekadar figur muda dengan popularitas, melainkan juga produk idealisme Gen Z “representasi suara generasi muda” di tengah partai yang sering terjebak nostalgia. PAC Kebumen tampak memilih karena ia cicit Bung Karno, simbol kecintaan terhadap Megawati dan garis Sukarno, bukan semata capaian politik mandiri. (Radar Jogja, 7 September 2025).
Sementara itu, di Sragen, DPC PDI P juga tak mau kalah berpolitik dengung. Mereka mengusulkan enam nama calon Ketua DPD Jateng: tiga berasal dari PAC Pinka Haprani, FX Hadi Rudyatmo (Plt Ketua DPD Jateng), dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Tiga lainnya hasil usulan DPC: mantan Bupati Sragen dua periode Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Mbak Yuni), Paryono, dan mantan Panglima TNI Andika Perkasa. (Joglosemar News, 7 September 2025).
Alasan mengusulkan Mbak Yuni cukup pragmatis: rekam jejak, loyalitas terhadap partai, jabatan nyata sebagai mantan bupati kontras mencolok dengan Pinka yang lebih mengandalkan darah politik daripada pengalaman pemerintahan. (Disway Jateng, 7 September 2025).
Dari Kota Solo, dinamika politik semakin kaya drama. Beberapa nama elite mencuat: FX Rudy, Andika Perkasa, bahkan Utut Adianto. Namun jelas, keputusan akhir tetap berada di tangan DPP dan Ketua Umum Megawati. Kader jujur tapi polos: usulan PAC adalah simpul awal, bukan garis finish. (RM.id, 8 September 2025).
Kita mendekati titik mengerikan dari demokrasi internal: apakah kredensial kelahiran (sebagai cicit Sukarno sekaligus cucu Megawati dan putri Puan Maharani) kini lebih bernilai daripada kompetensi? PDI P tampak terseret ke arus garis keturunan. Demokrasi internal sia sia jika pemenangnya sudah ditentukan sejak awal melalui nama. (IDN Times Jateng, 7 September 2025).
Lebih sinis lagi: ini bukan sekadar regenerasi; ini strategi politik yang tampak menukar idealisme dengan warisan, dan substansi dengan simbol. Apalagi di tengah prediksi 57 persen pemilih Pemilu 2029 berasal dari generasi muda apakah mereka akan terhipnotis nostalgia, atau mencari pemimpin yang punya prestasi, bukan sekadar silsilah VIP? (RM.id, 8 September 2025).
Fenomena Pinka hanyalah potret kecil dari pola lebih besar bernama politik dinasti di Indonesia. Ingat Gibran Rakabuming Raka yang meloncat dari kursi Wali Kota Solo menjadi calon wakil presiden dalam waktu singkat. Loncatannya disebut sebagian pihak sebagai bukti regenerasi muda, tapi bagi yang kritis, ia lebih mirip percepatan karier karena faktor ayah yang menjabat presiden. (Kompas, 24 Oktober 2023).
Di daerah lain, politik dinasti juga merebak. Di Banten, nama Ratu Atut Chosiyah sempat jadi ikon dinasti politik yang menjalar ke banyak posisi publik. Di Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memang unik karena status istimewa DIY, tapi pola pewarisan jabatan di lingkar keraton juga memperlihatkan bahwa darah tetap jadi tiket utama, bahkan di era demokrasi. (Tempo, 10 Desember 2020).
Ironisnya, fenomena politik dinasti selalu dijual dengan narasi regenerasi. Di tubuh PDI P, Pinka disebut representasi Gen Z, padahal yang lebih menonjol adalah silsilahnya sebagai cicit Bung Karno. Di lingkup nasional, Gibran disebut representasi anak muda, padahal sulit dilepaskan dari bayang bayang Jokowi. Narasi generasi muda akhirnya hanya jadi kemasan manis bagi produk lama yang dilabeli baru. (Detik, 22 November 2023).
Partai partai sering lupa bahwa publik makin cerdas. Pemilih muda punya akses informasi luas dan daya kritis tinggi. Menyodorkan kandidat hanya karena garis darah tanpa kinerja nyata adalah taruhan besar. Alih alih memperkuat partai, justru memperlebar jurang skeptisisme publik terhadap demokrasi internal. (Kompas, 8 September 2025).
Kita lihat dua wajah PDI P Jateng dalam satu cermin: satu sisi Pinka taut dengan masa lalu dan dinamika kekinian dan sisi lain Mbak Yuni tepercaya, loyal, berpengalaman. Siapa yang menang? Yang pasti, politik dinasti bukan jawaban untuk membangun kepercayaan publik. Karena dalam politik, darah tidak menjamin nyali. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar