Aktivis PMKRI Soroti AI dan Spiritualitas Gen Z
ASKARA - Aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Christian A. D. Rettob, menilai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi tantangan baru bagi martabat manusia, moralitas, dan kehidupan sosial generasi muda di era digital.
Hal tersebut disampaikannya dalam tulisan berjudul “Magnifica Humanitas dan Gen Z” yang menyoroti pentingnya spiritualitas dan nilai kemanusiaan di tengah pesatnya revolusi teknologi global.
Menurut Christian, kepausan di bawah Paus Leo XIV kembali mengangkat persoalan revolusi industri modern beserta dampak sosialnya, terutama setelah perkembangan AI yang semakin masif dalam kehidupan manusia.
Ia menilai kemunculan AI telah menciptakan budaya baru yang memengaruhi eksistensi manusia, terutama melalui otomatisasi dan digitalisasi di berbagai sektor kehidupan.
“Sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI, perusahaan-perusahaan lain berlomba mengembangkan teknologi AI. Situasi ini menghadirkan tantangan terhadap kreativitas manusia apabila penerapannya tidak diatur secara bijak,” ujarnya.
Christian menyebut dokumen Magnifica Humanitas atau Kemanusiaan yang Agung sebagai bagian dari warisan ajaran sosial Gereja yang bertujuan menjaga martabat manusia di tengah disrupsi teknologi.
Dokumen tersebut, kata dia, menjadi refleksi baru atas ensiklik Rerum Novarum yang telah berusia 135 tahun dan relevan dengan kehidupan Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital.
Ia mengingatkan bahwa meski Gen Z dikenal adaptif terhadap teknologi, mereka tetap menghadapi berbagai ancaman seperti ketergantungan pada mesin, menurunnya daya pikir kritis, plagiarisme akademik, hingga kerentanan terhadap hoaks dan isolasi sosial.
Selain itu, generasi muda juga dihadapkan pada tantangan global lain seperti krisis iklim, ketegangan geopolitik, deforestasi, dan fragmentasi ekonomi dunia.
“Gen Z tidak hanya dipanggil untuk aktif dalam kehidupan gereja, tetapi juga menjalankan tugas perutusan untuk menghadirkan nilai kasih, kebenaran, dan kemanusiaan melalui teknologi,” katanya.
Christian juga menyoroti pentingnya spiritualitas teknologi bagi generasi muda. Ia mencontohkan Santo Carlo Acutis, remaja asal Italia yang dikenal sebagai “Santo Milenial”, sebagai teladan dalam memanfaatkan teknologi untuk pelayanan iman.
Menurutnya, teknologi harus dipahami bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang baru untuk mewartakan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
Ia menegaskan bahwa perkembangan AI harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital, pemahaman etika teknologi, serta kemampuan kritis agar manusia tidak kehilangan nilai kemanusiaannya.
“AI harus dipahami sebagai jembatan peradaban manusia dengan teknologi, bukan sebagai pengganti kecerdasan manusia,” tutupnya.

Komentar