Alex-Frans Mendur Abadikan Kemerdekaan, Negara Abaikan Sejarah Pahlawan
ASKARA - Ada sesuatu yang sangat lucu sekaligus menyedihkan dari cara bangsa ini menghormati sejarah. Setiap Agustus kita sibuk bicara tentang pahlawan, memasang bendera, menggelar upacara, menyanyikan lagu perjuangan, lalu memberikan pidato tentang “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.
Tetapi di Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, sejarah justru sedang dimakan rayap.
Di tanah kelahiran Alex dan Frans Mendur, berdiri Tugu Pers Mendur. Monumen yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013 itu seharusnya menjadi rumah bagi ingatan bangsa. Tetapi kini kondisi bangunannya memprihatinkan. Kayu rumah panggung mulai dimakan rayap, dinding kusam, sementara koleksi foto yang dulu menjadi kekuatan utama tempat itu kini tinggal sebagian.
Dulu terdapat sekitar 113 foto karya Mendur bersaudara. Kini hanya beberapa yang tersisa. Selebihnya? Entah ke mana.
Kalimat “entah ke mana” mungkin terdengar sederhana. Tetapi untuk sebuah bangsa yang mengaku sangat mencintai sejarah, kalimat itu sebenarnya adalah tamparan keras.
Sebab yang hilang bukan sekadar lembaran foto.
Yang hilang adalah potongan ingatan Indonesia.
Alex dan Frans Mendur bukan fotografer yang sekadar mencari gambar bagus untuk dimuat di koran. Kamera mereka bekerja di tengah zaman yang penuh risiko. Mereka mengabadikan suasana awal Republik Indonesia, perundingan Indonesia-Belanda, perjuangan rakyat, hingga perang gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Ketika sejarah Indonesia membutuhkan saksi, mereka hadir dengan kamera.
Ketika republik masih rapuh dan masa depan belum jelas, mereka merekamnya.
Ketika banyak orang hanya bisa bercerita tentang perjuangan, Mendur bersaudara meninggalkan bukti visual.
Ironisnya, setelah republik berdiri kokoh selama puluhan tahun, justru bukti-bukti itu yang kita biarkan rapuh.
Rayap tampaknya lebih konsisten merawat pekerjaannya daripada negara merawat sejarahnya.
Dan di tengah semua itu muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa Alex dan Frans Mendur hingga kini belum juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional?
Tentu pemerintah akan mengatakan ada prosedur. Ada kajian. Ada persyaratan. Ada tahapan. Semua benar.
Tetapi sejarah juga mengenal satu kata yang sangat sederhana: keberanian.
Keberanian untuk mengakui bahwa ada orang yang jasanya terlalu besar untuk dibiarkan berhenti sebagai catatan kaki.
Jangan sampai negara terlihat sangat cepat memberikan penghargaan kepada mereka yang masih punya panggung, tetapi begitu lambat menghormati mereka yang sudah memberikan karya untuk generasi yang bahkan belum lahir ketika karya itu dibuat.
Mendur bersaudara telah mengabadikan wajah perjuangan Indonesia. Pertanyaannya sekarang: siapa yang akan mengabadikan jasa mereka?
Apakah harus menunggu rumah panggung itu roboh?
Menunggu foto terakhir menghilang?
Menunggu generasi yang mengetahui nama Alex dan Frans Mendur semakin sedikit?
Atau menunggu sampai sejarah hanya tersisa dalam buku teks sekolah yang dibaca murid menjelang ujian, kemudian dilupakan setelah nilai keluar?
Inilah penyakit klasik kita: pandai membangun simbol, tetapi malas merawat makna.
Monumen diresmikan dengan seremoni. Pita dipotong. Sambutan dibacakan. Kamera media berkelip. Setelah itu, perhatian perlahan pergi.
Sementara kayu tetap dimakan rayap.
Foto tetap menghilang.
Sejarah tetap menunggu.
Dan para pahlawan tetap menunggu pengakuan.
Padahal karya Alex dan Frans Mendur bukan sekadar dokumentasi fotografi. Foto-foto mereka adalah arsip visual perjalanan republik. Ia memiliki nilai sejarah, jurnalistik, budaya, dan artistik yang tidak mungkin dibuat ulang.
Foto yang hilang tidak bisa dipotret kembali.
Sejarah yang hilang tidak bisa di-restore seperti file komputer.
Dan pahlawan yang terlambat dihormati tidak pernah bisa menerima penghargaan itu ketika mereka masih hidup.
Karena itu, persoalan Tugu Pers Mendur bukan perkara mengecat ulang dinding atau mengganti papan kayu semata. Pemerintah harus melihatnya sebagai proyek penyelamatan memori bangsa.
Telusuri keberadaan foto-foto yang hilang. Selamatkan arsip yang tersisa. Digitalisasi seluruh koleksi. Renovasi bangunan. Jadikan tempat itu pusat edukasi sejarah pers dan perjuangan Indonesia. Dan yang paling penting, selesaikan proses pengusulan serta penetapan Alex dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional jika seluruh persyaratannya memang terpenuhi.
Jangan sampai kita baru bergerak setelah monumennya roboh.
Karena ketika rumah panggung itu runtuh, mungkin kita masih bisa membangun yang baru.
Tetapi ketika arsip sejarah hilang, kita tidak bisa membangun kembali ingatan yang sudah mati.
Ironi terbesar bangsa ini mungkin bukan karena kita kekurangan pahlawan.
Kita hanya terlalu sibuk mencari pahlawan baru, sampai lupa menghormati mereka yang sudah bekerja untuk membuat Indonesia dikenang.
Dan kalau rayap terus dibiarkan bekerja sementara negara terus menunda, jangan salahkan siapa pun jika suatu hari generasi mendatang bertanya:
“Alex dan Frans Mendur itu siapa?”
Saat pertanyaan itu muncul, mungkin bukan anak muda yang harus disalahkan.
Kitalah yang gagal mewariskan jawabannya.

Komentar