ASKARA - Kepemimpinan tidak selalu harus terlihat di ruang rapat atau podium. Kadang, maknanya justru terasa ketika seorang pemimpin turun langsung ke tengah warga dan melihat potensi yang tumbuh dari lingkungan sederhana.
Hal itu ditunjukkan Wali Kota Administrasi Jakarta Timur Munjirin, beberapa wsktu lalu. Seusai memimpin Gerebek Lumpur di Kali Sunter, Munjirin menyempatkan diri memanen singkong dan petai bersama warga RW 09, Jalan Radar Utara, Pangkalan Jati, Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar.
Dari lahan warga tersebut, sekitar 15 kilogram singkong dan 40 papan petai berhasil dipanen. Angkanya mungkin kecil bagi ukuran Jakarta, tetapi pesannya besar: lahan di tengah kota pun dapat menjadi ruang produktif dan mendukung ketahanan pangan.
“Cukup baik dan bagus ya, panen ini maksimal. Tadi kita cabut singkong besar-besar dan petainya cukup segar. Ini mewujudkan upaya ketahanan pangan yang optimal,” ujar Munjirin.
Munjirin patut diapresiasi karena melihat aktivitas warga bukan sekadar bercocok tanam, melainkan sebagai bagian dari gerakan membangun kemandirian pangan dari tingkat lingkungan.
Di tengah Jakarta yang identik dengan beton dan kepadatan, masih ada ruang untuk menanam, merawat dan memanen. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, lahan-lahan kecil semacam ini bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memperkuat gotong royong dan nilai ekonomi masyarakat.
Gerebek Lumpur dan panen warga pun sesungguhnya memiliki benang merah: membangun lingkungan kota yang lebih tangguh dengan melibatkan masyarakat.
Inilah kepemimpinan yang patut terus didorong—bukan sekadar hadir untuk melihat, tetapi hadir untuk mengapresiasi, menguatkan dan mengembangkan apa yang sudah dilakukan warga.
Sebab kota yang kuat bukan hanya dibangun dengan infrastruktur besar, tetapi juga dari lahan-lahan kecil yang produktif dan warga yang diberi ruang untuk mandiri.