Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:20
Editorial

Eskalator Stasiun Duri Menguji Keselamatan Publik

Eskalator Stasiun Duri Menguji Keselamatan Publik
Ilustrasi

ASKARA - Pagi di Stasiun Duri berubah menjadi kepanikan ketika eskalator menuju jalur 5 tiba tiba bergerak mundur pada Sabtu, 3 Oktober 2026 sekitar pukul 07.45 WIB. Dua belas pengguna terjatuh dan mengalami luka ringan. Lima orang kemudian dirujuk ke RS Duta Indah, dua menjalani observasi, sedangkan lima lainnya melanjutkan perjalanan setelah mendapat penanganan awal.

Peristiwa itu segera ditangani petugas. Eskalator dihentikan, pengguna yang terdampak dievakuasi ke Pos Kesehatan Stasiun Duri, sementara fasilitas tersebut diamankan dan diperiksa tim teknis. Penumpang yang hendak menuju jalur 5 diarahkan menggunakan akses tangga lain. Pada siang hari, eskalator masih belum dapat digunakan dan bagian fasilitas tersebut ditutup untuk kepentingan pemeriksaan.

Yang menarik bukan hanya bagaimana eskalator itu mengalami gangguan, tetapi bagaimana sebuah fasilitas yang dirancang untuk membantu mobilitas justru dapat berubah menjadi sumber risiko ketika mekanismenya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

KAI Commuter telah menyampaikan permohonan maaf dan memastikan korban mendapat penanganan. Namun perusahaan juga menyatakan kondisi serta penyebab gangguan masih dalam pemeriksaan tim teknis. Karena itu, tidak tepat jika publik buru buru menyimpulkan bahwa kejadian tersebut disebabkan kelalaian pemeliharaan, kerusakan komponen tertentu, atau kegagalan sistem pengaman.

Justru di titik itulah persoalan pentingnya berada. Pemeriksaan teknis harus mampu menjawab bukan hanya apa yang rusak, tetapi mengapa kerusakan itu bisa terjadi dan bagaimana sistem keselamatan bekerja ketika arah gerak eskalator berubah secara tidak normal.

Pertanyaan berikutnya adalah soal pencegahan. Kapan eskalator tersebut terakhir menjalani pemeriksaan berkala? Apakah terdapat catatan gangguan sebelumnya? Bagaimana mekanisme penghentian otomatis bekerja? Apakah eskalator sejenis di Stasiun Duri akan diperiksa? Dan apakah hasil pemeriksaan akan menjadi dasar evaluasi terhadap fasilitas serupa di stasiun lain?

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari tuntutan wajar pengguna transportasi publik. Penumpang menggunakan fasilitas stasiun karena percaya bahwa perangkat yang disediakan untuk umum telah diperiksa dan dinyatakan layak digunakan.

Stasiun Duri sendiri memiliki posisi penting dalam jaringan perjalanan komuter Jakarta dan sekitarnya. Ketika arus pengguna tinggi, gangguan pada fasilitas perpindahan antarlantai bukan sekadar persoalan kenyamanan. Penutupan satu eskalator berarti sebagian arus penumpang harus dialihkan ke jalur lain. Karena itu, kemampuan stasiun menyediakan akses alternatif juga menjadi bagian dari manajemen keselamatan.

Insiden ini sekaligus memperlihatkan bahwa kualitas transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh kereta yang datang tepat waktu atau sistem pembayaran yang semakin mudah. Keselamatan juga ditentukan oleh fasilitas yang sering luput dari perhatian: eskalator, tangga, lift, lantai, pagar pembatas, penerangan, hingga jalur evakuasi.

Eskalator mungkin terlihat sebagai perangkat sederhana. Namun ketika digunakan secara bersamaan oleh banyak orang, kegagalan kecil dapat menghasilkan konsekuensi berantai. Satu orang kehilangan keseimbangan dapat membuat pengguna lain ikut jatuh. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan petugas yang cepat merespons memang penting, tetapi pencegahan tetap lebih penting daripada penanganan setelah korban berjatuhan.

Karena itu, ukuran keberhasilan operator tidak semestinya berhenti pada seberapa cepat petugas mengevakuasi korban. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah insiden tersebut sistem diperbaiki sehingga kemungkinan kejadian serupa dapat ditekan.

Dua anak yang termasuk dalam 12 korban juga mengingatkan bahwa pengguna transportasi publik memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi keadaan darurat. Anak anak, lansia, dan pengguna dengan keterbatasan mobilitas membutuhkan sistem yang bukan hanya berfungsi normal, tetapi juga memiliki tingkat perlindungan ketika terjadi keadaan tidak terduga.

Di sisi lain, publik juga perlu bersikap adil. Video yang beredar dapat memperlihatkan akibat kejadian, tetapi belum tentu menjelaskan penyebabnya. Kesimpulan teknis harus menunggu pemeriksaan. Kritik yang sehat bukan mencari pihak untuk segera disalahkan, melainkan memastikan fakta ditemukan dan langkah pencegahan dilakukan.

Di sinilah transparansi KAI Commuter menjadi penting. Setelah pemeriksaan selesai, publik layak mengetahui penyebab gangguan, tindakan perbaikan yang dilakukan, serta langkah untuk memastikan fasilitas sejenis tetap aman. Informasi tersebut bukan sekadar kebutuhan komunikasi perusahaan, tetapi bagian dari upaya memulihkan kepercayaan pengguna.

Eskalator Stasiun Duri pada akhirnya bukan hanya soal satu mesin yang berhenti beroperasi. Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa infrastruktur transportasi publik selalu berhubungan langsung dengan keselamatan manusia.

Mesin dapat mengalami gangguan. Tetapi sistem pelayanan harus mampu memastikan gangguan tersebut tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar. Setelah 12 pengguna terluka, pekerjaan terpenting bukan sekadar membuat eskalator kembali bergerak.

Pekerjaan terpenting adalah memastikan ketika fasilitas itu kembali dibuka, penumpang memiliki alasan yang cukup untuk percaya bahwa mereka dapat menggunakannya dengan aman.

Sebab dalam transportasi publik, eskalator bukan sekadar benda mekanis yang membawa orang dari satu lantai ke lantai lain. Ia membawa manusia. Dan setiap manusia yang menggunakannya berhak sampai di tujuan dengan selamat.

Editor: Husnie