Minggu, 09 Agustus 2026 | 18:33
NEWS

Pemuda Dinilai Punya Peran Strategis dalam Mewujudkan Swasembada Energi

Pemuda Dinilai Punya Peran Strategis dalam Mewujudkan Swasembada Energi
Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia Dr. Rasminto (dok.umi)

ASKARA - Pemuda dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong terwujudnya swasembada dan kedaulatan energi nasional. Generasi muda tidak hanya dipandang sebagai penerus bangsa, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak inovasi, pengembangan teknologi, kewirausahaan, hingga pengawasan tata kelola energi.

Hal tersebut disampaikan Akademisi Universitas Muhammadiyah Indonesia, Dr. Rasminto pada peserta Pertamina Youth Program 2026 di Bogor (8/8/2026). 

Rasminto mengatakan Indonesia memiliki potensi energi yang besar dan beragam, baik energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT). Namun, tantangan utamanya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dikelola menjadi produksi, pembangkit, jaringan, hilirisasi, serta nilai tambah yang memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

“Pemuda hari ini bukan sekadar pewaris Indonesia masa depan. Mereka adalah salah satu aktor yang menentukan bentuk Indonesia masa depan, termasuk dalam menentukan arah kedaulatan energi nasional,” ujar Rasminto kepada wartawan. 

Menurutnya, karakter generasi muda yang adaptif terhadap perubahan, dekat dengan teknologi dan inovasi, memiliki kemampuan membangun jejaring, serta keberanian menawarkan gagasan baru menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan sektor energi.

"Penguatan peran pemuda dalam sektor energi perlu diarahkan pada empat peran utama, yakni sebagai inovator, penggerak, talenta, dan pengawas kebijakan", katanya. 

Menurutnya, sebagai inovator, pemuda dapat mengambil bagian dalam pengembangan startup energi, digitalisasi, teknologi penyimpanan energi, bioenergi, energi baru terbarukan, serta berbagai teknologi efisiensi energi. Sementara sebagai penggerak, generasi muda dapat membangun kesadaran masyarakat melalui kampanye hemat energi, elektrifikasi, dan peningkatan penggunaan produk energi nasional.

“Pemuda harus kita dorong menjadi pencipta solusi energi. Kedekatan mereka dengan teknologi dan inovasi merupakan modal besar yang harus diarahkan untuk menjawab persoalan energi nasional,” katanya.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap talenta energi masa depan juga semakin penting. Rasminto mendorong penguatan riset, pendidikan vokasi, sertifikasi, pengembangan green jobs, dan kewirausahaan energi agar generasi muda memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan transformasi sektor energi.

"Peran pemuda juga penting dalam memperkuat tata kelola energi. Tantangan sektor energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, tetapi juga menyangkut koordinasi, keterpaduan data, efektivitas pengawasan dan akuntabilitas", tuturnya. 

Ia menyoroti bahwa fragmentasi tata kelola dapat membuat keputusan strategis menjadi lebih lambat, data tidak terintegrasi, dan akuntabilitas menjadi kurang optimal. Karena itu, generasi muda perlu memiliki literasi data dan kemampuan untuk berpartisipasi dalam pengawasan publik.

“Pemuda juga perlu menjadi bagian dari pengawasan. Mereka harus memiliki kemampuan membaca data, memahami kebijakan energi, melakukan social audit, serta menyampaikan gagasan dan kritik yang konstruktif,” jelasnya.

Rasminto menilai keterlibatan pemuda dalam pengawasan bukan berarti mengambil alih peran pemerintah atau lembaga negara, melainkan memperkuat partisipasi publik agar tata kelola energi semakin transparan dan akuntabel. 

"Ketergantungan terhadap impor energi menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi secara bersama. Ketika produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan, ketergantungan impor dapat meningkatkan tekanan terhadap devisa, nilai tambah ekonomi, serta ketahanan fiskal nasional. Disinilah kita perlu perkuat partisipasi publik dalam mencari solusi bersama", tandasnya. 

Menurut Rasminto, agenda swasembada energi harus berjalan bersamaan dengan pembangunan sumber daya manusia.

“Kita tidak cukup hanya membangun infrastruktur energi. Kita juga harus membangun manusia yang mampu menciptakan, mengelola, mengembangkan dan mengawasi sektor energi. Di sinilah pentingnya menyiapkan generasi muda sebagai talenta energi masa depan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dapat membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat dalam riset, inovasi, pendidikan vokasi, kewirausahaan, maupun pengawasan kebijakan energi.

"Pemuda bukan sekadar penerima manfaat dari kebijakan energi, tetapi harus menjadi bagian dari proses membangun masa depan energi Indonesia", pungkasnya. (Kelana Muda)

Komentar