Paus Leo XIV Berjalan dalam Doa Rosario Bersama Ribuan Peziarah Lourdes
ASKARA - Di bawah cahaya lilin yang berkelip, ribuan peziarah berjalan dalam doa di Lourdes, Prancis, Sabtu malam, 27 September 2026. Di antara mereka hadir sosok istimewa: Paus Leo XIV, yang menyatukan langkahnya dengan jutaan peziarah yang selama bertahun-tahun datang membawa harapan, kesedihan, luka, dan pergulatan hidup.
Setiap malam sepanjang April hingga November, Shrine of Our Lady of Lourdes menggelar doa Rosario dan prosesi dengan obor. Namun malam itu terasa berbeda. Sebagai penerus Santo Petrus dan pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV hadir bukan sekadar sebagai pemimpin Gereja, tetapi sebagai seorang peziarah di tengah para peziarah.
Sesaat setelah lonceng Basilica of Our Lady of the Immaculate Conception berdentang pukul 21.00 waktu setempat, Paus Leo memulai prosesi dari Grotto of Massabielle, tempat Bunda Maria diyakini menampakkan diri kepada Santa Bernadette Soubirous.
Paus berjalan perlahan mengikuti patung Our Lady of Lourdes yang menjadi bagian utama prosesi. Di belakangnya mengikuti delegasi kepausan, para uskup, imam, relawan tempat ziarah, keluarga dan ribuan umat.
Dari balik pembatas, para peziarah turut mendaraskan Bapa Kami dan Salam Maria dengan Rosario dan lilin di tangan. Sebagian berlutut, lainnya berdiri atau duduk di kursi lipat. Di antara kerumunan terlihat pula banyak peziarah yang menggunakan kursi roda, sebagian diselimuti untuk menahan dinginnya malam.
Dari kejauhan, ribuan nyala lilin tampak seperti titik-titik cahaya yang bergerak perlahan. Doa Rosario bergantian dengan nyanyian rohani. Pada saat-saat tertentu, para peziarah mengangkat lilin mereka bersama-sama, menghadirkan pemandangan yang hening sekaligus menggetarkan.
Dalam sambutannya, Paus Leo mengatakan dirinya tersentuh melihat umat dari berbagai generasi terus menjawab dengan kasih dan kepercayaan terhadap undangan lembut Bunda Maria.
"Betapa mengharukan melihat umat beriman, dari satu generasi ke generasi berikutnya, menanggapi dengan kasih dan kepercayaan undangan lembut Perawan Maria," ujar Paus Leo.
Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena dapat mengambil bagian dalam tradisi doa tersebut.
"Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya juga dapat menjawab panggilan Bunda kita malam ini, menjadi seorang peziarah di antara para peziarah," katanya.
Namun perjalanan doa itu tidak hanya membawa pergumulan pribadi. Paus Leo menyadari bahwa sebagai pemimpin Gereja, ia turut membawa keprihatinan dunia yang sedang menghadapi ketegangan, perpecahan dan berbagai konflik.
Di tengah suasana Lourdes yang dikenal sebagai tempat doa dan penyembuhan, Paus mengajak umat memandang cahaya lilin sebagai lambang harapan yang terus menyala.
"Cahaya yang membimbing kita dan menarik kita untuk terus berjalan adalah cahaya harapan, yang tidak pernah meninggalkan kita bahkan ketika kita menjalani perjalanan hidup ini," tuturnya.
Menurut Paus Leo, kemampuan menemukan ketenangan dan sukacita di tengah penderitaan bukanlah sesuatu yang mustahil. Semua itu menjadi mungkin karena rahmat Tuhan memungkinkan manusia merasakan kehadiran Kristus yang bangkit dan memberi kehidupan.
"Ia memampukan kita melihat melampaui cakrawala duniawi menuju masa depan yang lebih jauh," ujarnya.
Mengutip Santo Paulus, Paus kemudian mengingatkan para peziarah bahwa penderitaan manusia saat ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.
Di Lourdes malam itu, ribuan lilin bukan hanya menerangi jalan para peziarah. Dalam keheningan doa, cahaya-cahaya kecil tersebut menjadi simbol harapan, bahwa di tengah luka, penderitaan dan berbagai pergumulan dunia, manusia tetap memiliki alasan untuk terus berjalan.

Komentar