Jumat, 31 Juli 2026 | 12:19
OPINI

Ketika Penjelasan Tak Lagi Didengar

Ketika Penjelasan Tak Lagi Didengar
Ilustrasi ketika penjelasan tak lagi didengar (Dok Askara)

ASKARA - Sudah lama rasanya saya tidak menulis dan berbagi tulisan seperti yang rutin saya lakukan sebelumnya. Bukan karena tidak ada yang ingin disampaikan, tetapi belakangan saya merasa tidak semua hal harus selalu dikomentari. Namun akhir-akhir ini, ada satu fenomena yang cukup mengusik pikiran saya. Semakin saya amati, semakin saya merasa ada sesuatu yang sedang berubah dalam cara kita memandang sebuah persoalan. Kegelisahan itulah yang akhirnya mendorong saya kembali menulis, bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan sekadar berbagi perspektif dan mengajak kita merenung bersama.

Kegelisahan itu berawal dari sebuah pertanyaan dalam diri saya tentang, apakah sekarang kita memang sudah memasuki era di mana penjelasan tidak lagi penting? 

Ketika seseorang diterpa masalah, publik selalu menuntut klarifikasi. Tetapi sering kali saya merasa, klarifikasi itu sebenarnya tidak pernah benar-benar ditunggu. Yang sudah menyukai akan tetap percaya, sedangkan yang sudah membenci akan tetap menolak. Seolah-olah kesimpulan telah dibuat jauh sebelum penjelasan diberikan.

Tentu, saya juga menyadari bahwa persoalannya tidak selalu berada di pihak yang mendengar. Kadang penjelasannya memang keliru, tidak utuh, berbelit-belit, bahkan terlambat disampaikan sehingga memunculkan spekulasi. Komunikasi yang buruk memang dapat menggerus kepercayaan. Karena itu, menjelaskan dengan jujur, jelas, dan tepat juga merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dilakukan.

Namun setelah saya renungkan, persoalan yang lebih besar tampaknya bukan sekadar soal komunikasi, melainkan cara kita memandang kebenaran. Aristoteles menyebut manusia sebagai animal rationale, makhluk yang menggunakan akal budinya untuk mencari kebenaran. Artinya, kita semestinya mendengar, menimbang alasan dan bukti, baru kemudian menyimpulkan. Bukan sebaliknya: menyimpulkan lebih dahulu, lalu hanya mencari fakta yang mendukung keyakinan kita.

Mungkin inilah yang paling mengkhawatirkan hari ini. Kita tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”, tetapi lebih sering bertanya, “Apakah ini sesuai dengan apa yang sudah saya yakini?” Akibatnya, fakta sering kali kalah oleh prasangka. Padahal Immanuel Kant mengingatkan bahwa keberanian berpikir adalah keberanian menggunakan akal sendiri (Sapere Aude), bukan sekadar mengikuti emosi atau opini yang sedang ramai.

Sebagai praktisi hukum, kegelisahan ini terasa semakin nyata saya rasakan ketika melihat dunia penegakan hukum di Indonesia. Tidak sedikit orang yang telah dijatuhi “vonis” oleh opini publik sebelum proses pembuktian dimulai. Asas praduga tak bersalah yang menjadi fondasi negara hukum perlahan terkikis oleh penilaian yang lahir dari sentimen, bukan dari fakta.

Mungkin saya keliru. Tetapi saya percaya, peradaban tidak kehilangan arah karena adanya perbedaan pendapat. Peradaban mulai kehilangan arah ketika kita berhenti mendengar, berhenti menimbang, dan berhenti memberi ruang bagi akal untuk mengoreksi keyakinan kita sendiri.

Pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah ketika kebohongan terdengar lebih nyaring daripada kebenaran. Yang paling menakutkan adalah ketika hati telah dipenuhi prasangka, sehingga kebenaran sekalipun tidak lagi memiliki tempat untuk singgah. Sebab ketika itu terjadi, yang  hilang dari kita bukan hanya logika, melainkan juga kebijaksanaan untuk tetap menjadi manusia.

Jumat, 31 Juli 2026

Monolog Penunggu Subuh di Selatan Jakarta

Husendro

 

Komentar