Minggu, 14 Juni 2026 | 01:33
OPINI

Ramayana Diskriminasi Gender

Ramayana Diskriminasi Gender
Ilustrasi Ramayana diskriminasi gender (Dok Gemini)

Oleh: Jaya Suprana

ASKARA - Tidak perlu diragukan lagi bahwa Ramayana wiracarita agung. Tapi mari jujur: satu babnya beraroma diskriminasi gender. Tajam ke perempuan, tumpul ke lelaki.

Semula Shinta diculik Rahwana. Dia ditawan setahun di Alengka. Tidak bisa makan enak, tidak bisa tidur nyenyak, akibat takut diperkosa Rahwana. Secara hukum, Shinta korban. Korban tidak pernah salah. Kecuali di Ramayana.

Lalu Rama menang perang. Shinta dibebaskan. Logikanya selesai. Tapi Rama tidak memeluk. Rama malah sinis bersabda: "Rakyat Ayodhya akan menuduhmu. Buktikan kesucianmu".

Buktinya cuma satu: mati obong. Shinta harus masuk api. Kalau tidak gosong berarti suci. Kalau gosong berarti kotor. Pengadilan paling kejam: api jadi juri, tubuh perempuan jadi barang bukti.

Pertanyaannya: Rama diuji apa? Nol. Tidak ada ujian api untuk suami yang ragu. Tidak ada ujian api untuk raja yang lebih takut omongan rakyat daripada percaya istrinya.

Lalu muncul adegan anti klimaks penyelamat reputasi lelaki. Trijata, putri Wibisana, maju juga ke api. Katanya: "Kalau suci itu standarnya api, saya ikut". Api menyala. Semua menahan napas. Mendadak Hanuman terbang menyambar Trijata agar tidak hangus. Selamat. Reputasi lelaki aman. Narasinya berubah: "Lihat, Hanuman jago. Api tidak berkuasa". Setelah itu mereka berdua menikah. Kerennnnn Hanuman dapat istri putri raja, Trijata dapat suami dewa kera, Rama dapat istri "bersertifikat api". Semua bahagia. Kecuali logika.

Itu inti diskriminasi gender di Ramayana. Beban pembuktian jatuh hanya ke perempuan. Laki-laki bebas beban malah jadi hakim. Perempuan harus jadi terdakwa + saksi + barang bukti. Kalau gagal, ada Hanuman yang "menyelamatkan reputasi" supaya ceritanya tetap terkesan indah untuk pihak lelaki.

Dewi Pertiwi membelah tanah saat Shinta lompat. Api padam dan Shinta selamat.  Itu bukan kemenangan Rama. Itu protes bumi. Langit dan raja gagal adil, maka tanah turun tangan.

Wiracarita karya Walmiki ini berusia lebih dari 3000 tahun, polanya masih hidup. Korban disuruh buktikan diri dulu baru dipercaya. Laki-laki cukup bilang "namanya juga manusia".

Ramayana mengajarkan dharma. Tapi di kasus Shinta, dharma mandek di pintu purusa. Adharma menang lewat prasangka.

Shinta tidak butuh api untuk membuktikan dia Shinta. Rama yang butuh api untuk membuktikan dia Rama. Dan Hanuman tidak perlu menikahi Trijata supaya kita paham: perempuan tidak butuh diselamatkan dari api prasangka. Sampai standar ganda ini dibakar habis, Ramayana akan tetap agung ceritanya tetapi tetap beraroma lelaki sentris maka diskriminatif gender. Tumpul ke lelaki, tajam ke perempuan.

 

Komentar