Kebangkitan Ilmiah = Kebangkitan Nasional
Oleh: Ismunandar, Staf Ahli Kementerian Kebudayaan, anggota dewan Kurator Pameran Gelora Api Kebangkitan
ASKARA - Setiap 20 Mei, Indonesia memperingati Kebangkitan Nasional. Momen itu menandai kesadaran kolektif Nusantara yang terpumpun dalam satu semangat. Namun di balik narasi heroik yang kita rayakan, tersembunyi satu tesis penting. Tesis itu kerap alpa dari ingatan publik. Kebangkitan nasional lahir dari kebangkitan ilmiah.
Fakta sejarah menunjukkan hal ini secara gamblang. Kebangkitan bukan pertama-tama dari senjata atau orasi. Melainkan dari laboratorium dan buku ilmu pengetahuan. Juga dari semangat rasional yang bersemi di STOVIA. Sekolah Dokter Jawa itulah kawah candradimuka sesungguhnya.
Boedi Oetomo didirikan dan dianggap sebagai pintu gerbang kesadaran kebangsaan. Ia tidak lahir dari ruang kosong. Para pendirinya, dr. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji adalah pelajar STOVIA. Mereka semua hidup dalam ekosistem intelektual STOVIA. Sekolah ini menanamkan tradisi berpikir rasional. Juga sikap ilmiah tanpa diskriminasi ras. Humanisme universal menjadi bagian dari pendidikan sehari-hari. Ilmu pengetahuan adalah api yang menyulut kesadaran itu.
Pameran di Tempat Kebangkitan
Tesis sejarah ini kini kami jelmakan menjadi peristiwa budaya. Pada 20 Mei 2026, Museum Kebangkitan Nasional membuka pintunya untuk pameran. Pameran itu bertajuk Gelora Api Kebangkitan: ScienceArt 8.0. Museum ini yang tak lain adalah gedung STOVIA itu sendiri. Pemilihan tempat adalah pernyataan kuratorial yang disengaja dan tegas. Kebangkitan nasional berakar pada kebangkitan ilmiah. Keduanya dilahirkan di bangunan fisik yang sama.
Pameran ini menampilkan 80 lukisan wajah cendekiawan. Delapan puluh lukisan itu lahir dari tangan pelukis Paul Hendro. Ia menggunakan teknik camera obscura metode pinhole. Dengan latar hitam pekat dan palet cahaya terciptalah kesan puitis. Setelah kegelapan, terbitlah terang budi. Ini adalah metafora visual dari proses pencerahan. Pencerahan yang dialami para pelajar STOVIA awal abad ke-20.
Di antara 80 wajah itu, ada empat sosok yang penting. Mereka menjadi jantung narasi pameran ini. Christiaan Eijkman adalah titik mula dari semuanya. Ia menjabat sebagai Direktur Sekolah Dokter Jawa. Ia juga peraih Nobel Kedokteran tahun 1929. Penemuan Eijkman tentang vitamin B mengubah dunia. Penelitian yang dilakukan di laboratorium STOVIA. Ia adalah arsitek budaya ilmiah di sekolah tersebut.
Achmad Mochtar adalah martir ilmu pengetahuan berikutnya. Ia lulusan STOVIA yang membanggakan. Mochtar menjadi direktur pribumi pertama Lembaga Eijkman. Data sejarah dari arsip mencatat pengorbanannya. Pada masa pendudukan Jepang, ia bertindak heroik. Ia dengan sadar menyerahkan dirinya kepada Kenpeitai. Ia memilih mati demi melindungi lembaga Eijkman. Juga demi integritas keilmuan yang dipercayakan kepadanya.
Mas Sardjito juga merupakan lulusan STOVIA. Ia melampaui batas profesi dokter biasa. Ia menjadi Rektor pertama Universitas Gadjah Mada. Ia juga menjadi pelopor penelitian biomedis Indonesia. Sementara, Raden Soesilo mendedikasikan hidupnya pada penelitian malaria. Data dari arsip kesehatan Hindia Belanda menyebut jasanya. Ia gugur sebagai korban pendudukan Jepang. Peristiwa itu terjadi di Banjarmasin pada 1943.
Tiga tokoh tersebut adalah sebagian kecil bukti bahwa tradisi ilmiah Eijkman benar-benar berbuah. Ia berbuah dalam generasi pembangun bangsa. Ini adalah fakta yang absen dari buku sejarah kita.
Peta Peradaban Nusantara
Pameran ini tidak berhenti pada empat nama itu. Gagasan besarnya adalah menyusun galeri peradaban. Yaitu atlas wajah-wajah pembentuk tradisi keilmuan Nusantara. Rentang waktunya dari abad ke-17 hingga masa kontemporer.
Proses kurasi dilakukan secara ketat oleh AIPI, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. Mereka bekerja bersama Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Angka 80 dipilih untuk merayakan kemerdekaan Indonesia, 2025.
Mulai dari Rumphius yang merekam kekayaan hayati Maluku. Ia melakukannya dengan penuh pengorbanan fisik. Rumphius kehilangan penglihatan namun tetap berkarya. Ada juga Alfred Russel Wallace dari Ternate. Wallace merumuskan teori evolusi secara independen dari Darwin. Kemudian Kartini menulis laporan etnografis dalam jurnal ilmiah Belanda. Karyanya diterbitkan dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. B.J. Habibie membawa Indonesia ke langit kedirgantaraan. Ia adalah presiden ketiga dengan latar belakang ilmuwan. Ada ekonom seperti Soemitro Djojohadikusumo. Juga Widjojo Nitisastro yang merancang Repelita. Ada pemikir seperti Nurcholish Madjid. Juga Soedjatmoko yang menjadi rektor PBB University.
Para kurator menyepakati bahwa "ilmuwan" dimaknai luas. Tidak hanya mereka yang berdiri di balik mikroskop. Tetapi juga para penyuluh kesadaran bangsa. Mereka yang dengan pikiran, tulisan, dan tindakannya menerangi jalan. Menerangi jalan bagi Indonesia dengan penuh dedikasi.
Pameran Gelora Api Kebangkitan bukan sekadar pameran seni. Ini adalah usulan terhadap cara kita mendefinisikan pahlawan. Juga terhadap akar kebangkitan yang selama ini kita abaikan.

Komentar