Selasa, 21 Juli 2026 | 11:01
NEWS

Om Piet Bantu Kesembuhan Mantan Juara Bela Diri Penderita Stroke

Om Piet Bantu Kesembuhan Mantan Juara Bela Diri Penderita Stroke
Ilustrasi Om Piet dengan pasien (Dok Askara)

ASKARA - Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet kembali membagikan pengalaman terapinya dalam membantu pasien dengan berbagai kondisi kesehatan. Pria lulusan Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group itu dikenal banyak membantu orang menemukan kembali kesehatannya melalui terapi pijat berbasis titik tubuh atau accupressure.

Kali ini, Om Piet menceritakan pengalamannya menangani seorang mantan atlet bela diri nasional yang mengalami stroke hingga harus menggunakan kursi roda.

Dalam catatannya, pasien yang disebut dengan nama samaran Om Flores itu merupakan sosok praktisi bela diri yang pernah meraih prestasi hingga tingkat dunia. Namun akibat stroke, kemampuan geraknya mengalami penurunan, terutama pada bagian tubuh sebelah kanan.

“Lehernya sempat kaku, kaki kanan sulit digerakkan, dan aktivitas sehari-hari harus dibantu keluarga maupun perawat,” tulis Om Piet dalam keterangannya, Rabu (14/5/2026).

Om Piet menjelaskan, terapi yang dilakukan menggunakan metode accupressure atau pijatan pada titik-titik tertentu di tubuh. Metode tersebut diawali dengan pemeriksaan melalui sentuhan pada jari jemari tangan untuk mendeteksi kondisi tubuh pasien, kemudian dilanjutkan pada beberapa titik tubuh lain yang dianggap berkaitan dengan sistem saraf dan peredaran darah.

Menurutnya, perkembangan pasien mulai terlihat secara bertahap. Kondisi leher disebut membaik, kemampuan bicara meningkat, dan gejala khas stroke seperti keluarnya air liur berlebihan mulai berkurang.

Dalam sesi terapi terbaru di kawasan Bintaro, Om Piet mengaku mencoba pendekatan berbeda dengan fokus pada titik-titik yang berkaitan dengan koordinasi saraf tubuh.

“Hasilnya pasien mulai bisa menggerakkan kaki kanan dan merespons perintah sederhana untuk mengangkat kaki,” ujarnya.

Momen tersebut disaksikan sejumlah orang yang berada di lokasi terapi dan disambut antusias keluarga pasien.

Om Piet juga mengaitkan pengalamannya saat membantu pasien lain dengan berbagai kondisi kesehatan, termasuk penderita Turner Syndrome dan pasien stroke lainnya yang disebut menunjukkan perkembangan setelah terapi pendamping.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa terapi yang dilakukannya bukan pengganti penanganan medis. Ia tetap menyarankan pasien menjalani pemeriksaan dokter, fisioterapi, serta pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan profesional.

“Ini bagian dari ikhtiar membantu sesama. Pemeriksaan dan penanganan medis tetap penting,” katanya.

Bagi Om Piet, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari semangat berbagi dan membantu orang lain agar tetap memiliki harapan dalam proses pemulihan kesehatan.

 

 

Komentar