Penyintas Stroke ini Tunjukkan Kemajuan Usai Diterapi Om Piet
ASKARA - Praktisi terapi pijat dan akupresur Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet kembali membagikan pengalaman mendampingi seorang penyintas stroke dalam catatan rutinnya bertajuk Indahnya Berbagi yang ditulis pada Jumat (7/8/2026).
Dalam kisah tersebut, Om Piet menceritakan pertemuannya dengan seorang pria berinisial As, seorang pengacara berusia sekitar 40 tahun yang telah menjalani pemulihan setelah mengalami stroke akibat pecah pembuluh darah di otak sekitar satu tahun lalu.
Menurut Om Piet, pria tersebut datang bersama istrinya yang berprofesi sebagai perawat ke sebuah restoran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Kamis (6/8/2026). Saat itu, pasien menggunakan kursi roda karena masih mengalami gangguan fungsi pada tangan dan kaki sebelah kiri.
Om Piet menuturkan, pasien sempat menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Jakarta Barat sebagai bagian dari penanganan stroke yang dialaminya. Dalam proses pemulihan, kemampuan menggerakkan anggota tubuh kirinya masih terbatas.
Di lokasi tersebut, seorang karyawan restoran menawarkan kepada pasien untuk mengikuti sesi terapi akupresur yang saat itu sedang berlangsung. Setelah menyatakan bersedia, pasien kemudian menjalani terapi yang dilakukan Om Piet dengan disaksikan sang istri serta sejumlah peserta lain yang sedang mengikuti kegiatan serupa.
"Selama terapi pasien tampak merasakan nyeri, namun tetap berusaha mengikuti seluruh proses hingga selesai," ujar Om Piet dalam keterangannya.
Usai terapi, Om Piet mengklaim pasien mulai menunjukkan perubahan pada kemampuan menggerakkan kaki kirinya. Menurutnya, pasien sudah dapat mengangkat kaki kiri ke atas pangkuan dan meluruskan telapak kaki dengan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Om Piet mengatakan pasien berencana kembali mengikuti sesi terapi berikutnya sebagai bagian dari ikhtiar pemulihan yang sedang dijalani.
Ia juga menyampaikan bahwa setiap pengalaman yang dibagikannya merupakan kisah pribadi para pasien yang datang secara sukarela untuk menjalani terapi pendamping.
Meski demikian, klaim mengenai perkembangan kondisi pasien tersebut merupakan pengalaman yang disampaikan Om Piet dan belum dapat dianggap sebagai bukti ilmiah mengenai efektivitas terapi akupresur dalam menangani stroke. Penanganan stroke tetap memerlukan diagnosis, rehabilitasi, dan pengobatan sesuai rekomendasi tenaga medis.
Menutup catatannya, Om Piet mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, tidak kehilangan harapan dalam menjalani proses pemulihan, serta terus memadukan ikhtiar dengan doa dan penanganan medis yang tepat.

Komentar