Kamis, 27 Agustus 2026 | 12:44
LIFESTYLE

Lima Pasien Stroke, Om Piet Bagikan Pengalaman Pendampingan dan Pesan Kewaspadaan

Lima Pasien Stroke, Om Piet Bagikan Pengalaman Pendampingan dan Pesan Kewaspadaan
Ilustrasi Om Piet dengan pasien stroke (Dok Gemini)

ASKARA – Pieter Dasion, yang akrab disapa Om Piet, membagikan pengalaman saat mendampingi sejumlah pasien stroke melalui terapi pijat atau accupressure. Dalam catatannya bertajuk Indahnya Berbagi, ia menceritakan pengalaman membantu lima pasien dengan kondisi berbeda sekaligus mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan faktor risiko stroke.

Dalam dua pekan terakhir, menurut Om Piet, sedikitnya lima pasien stroke yang ia dampingi antara lain Om No, Bu Ita, Mas Ben, Mas An, dan Mas Nur. Mereka datang dengan kondisi beragam, sebagian menggunakan kursi roda dan membutuhkan bantuan keluarga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Salah satu pasien yang ia ceritakan adalah Om No, yang disebut mengalami stroke setelah memiliki riwayat diabetes. Menurut Om Piet, pasien tersebut sebelumnya memiliki berat badan hingga sekitar 140 kilogram dan kemudian mengalami penurunan berat badan. Saat mengunjungi kediamannya, Om Piet mendapat informasi dari keluarga bahwa kondisi pasien dinilai lebih baik dibanding sebelumnya, termasuk mulai mampu berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.

“Anaknya yang tinggal di Jepang juga melihat ada perubahan pada kondisi papanya,” tulis Om Piet dalam catatannya, Rabu (26/8/2026).

Ia juga menceritakan Bu Ita, seorang pensiunan pramugari yang mengalami stroke pada sisi kiri tubuh. Setelah beberapa kali menjalani terapi, menurut Om Piet, pasien tersebut mulai menunjukkan respons pada kaki dan tangan kiri. Namun, ia menekankan bahwa kondisi pasien stroke tetap memerlukan penanganan dan pemantauan medis.

Pasien lainnya, Mas Ben, disebut merupakan pria berusia sekitar 50 tahun yang sebelumnya aktif sebagai pemain band pengiring sejumlah artis. Setelah mengalami stroke, ia membutuhkan bantuan keluarga. Sementara Mas An dan Mas Nur juga disebut mengalami stroke pada sisi kiri tubuh dan sedang menjalani proses pemulihan.

Om Piet mengatakan terapi yang dilakukannya berupa pijatan pada telapak tangan dan sejumlah bagian tubuh. Ia mengaku menemukan respons berbeda pada setiap pasien. Namun, pengalaman tersebut merupakan pengamatan pribadi dan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa terapi pijat dapat menyembuhkan stroke.

Karena itu, Om Piet mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala maupun faktor risiko stroke. Ia menyarankan pemeriksaan kesehatan secara berkala, termasuk tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat, serta segera berkonsultasi dengan dokter apabila muncul keluhan yang mengkhawatirkan.

“Jangan sampai terlambat. Kenali kondisi tubuh dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” pesannya.

Om Piet sendiri diketahui berlatar belakang pendidikan teknik dari Universitas Indonesia dan pernah berkarier di lingkungan Kompas Gramedia Group sebelum memasuki masa pensiun pada 2019. Sejak 2011, ia menekuni terapi pijat accupressure sebagai aktivitas membantu masyarakat yang mencari alternatif pendamping untuk menjaga kebugaran.

Meski aktif membagikan berbagai testimoni pasien, Om Piet mengingatkan bahwa terapi alternatif sebaiknya tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, obat, maupun rehabilitasi medis yang diperlukan pasien. Untuk kasus stroke, penanganan oleh dokter dan rehabilitasi yang sesuai tetap menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

 

Komentar