Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:52
LIFESTYLE

Filosofi Film Lost in Translation, Found in Power, Prof. Rokhmin Dahuri: Kredibilitas Bukan Diklaim, Tapi Dibuktikan Waktu

Filosofi Film Lost in Translation, Found in Power, Prof. Rokhmin Dahuri: Kredibilitas Bukan Diklaim, Tapi Dibuktikan Waktu
Film Lost in Translation, Found in Power dan Prof. Rokhmin Dahuri (ai)

ASKARA - Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., membagikan refleksi mendalam usai menonton film dokumenter biografi Lost in Translation, Found in Power yang mengisahkan perjalanan hidup Erica Laurie.

Bukan sekadar ulasan film, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu menarik sebuah benang merah yang relevan bagi para pemimpin, profesional muda, hingga publik secara umum: bahwa kredibilitas dan kompetensi sejati tidak pernah merupakan hasil instan.

"Baru saja selesai menonton film Lost in Translation, Found in Power, yang mengisahkan perjalanan hidup Erica Laurie. Dari film ini saya kembali diingatkan pada satu hal penting, kredibilitas dan kompetensi tidak pernah lahir dalam satu malam," ujar Prof. Rokhmin Dahuri, Ahad (16/8).

Menurutnya, apa yang ditampilkan film tersebut adalah potret jujur bahwa di balik setiap pencapaian yang tampak gemilang di mata publik, selalu ada proses panjang yang sunyi, melelahkan, dan sering kali tidak terlihat.

Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri menganalogikannya dengan filosofi pertumbuhan sebatang pohon yang menurutnya sangat representatif menggambarkan perjalanan manusia.

"Saya membayangkan perjalanan itu seperti sebatang pohon yang tumbuh ke dua arah, ke atas dan ke bawah. Yang terlihat oleh mata adalah bagian yang tumbuh di permukaan, batang yang kokoh, daun yang rimbun, dan buah yang lebat. Tetapi jauh di bawah tanah, ada akar yang terus bekerja dalam kesunyian," ujarnya.

Akar tersebut, lanjutnya, bekerja tanpa tepuk tangan. Ia menembus tanah keras, mencari unsur hara, menyerap nutrisi, dan membangun fondasi yang memungkinkan pohon itu tetap kokoh berdiri, tidak mudah tumbang ketika angin kencang menerpa.

"Begitu pula dengan manusia. Yang terlihat publik adalah jabatan, pencapaian, reputasi, jaringan, dan keberhasilan. Tetapi di balik semua itu ada proses panjang yang tidak selalu menarik untuk diceritakan," kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Ia merinci proses sunyi itu: belajar ketika tidak ada yang mengawasi, bekerja ketika tidak ada yang memuji, jatuh lalu bangkit kembali, menerima kritik dengan lapang dada, memperbaiki kesalahan, dan terus mengasah diri ketika orang lain mungkin sudah merasa cukup.

Dalam pandangannya, ada lima pilar yang menjadi fondasi dari pohon kredibilitas tersebut.

Pertama, kompetensi yang dibangun melalui kerja keras dan kemauan untuk terus belajar dengan prinsip learn, re-learn, and un-learn.

Kedua, integritas yang dibangun melalui konsistensi, terutama ketika tidak ada kamera yang merekam.

Ketiga, loyalitas yang hanya bisa dibuktikan oleh waktu.

Keempat, jejaring yang harus dirawat bukan ketika kita membutuhkan sesuatu, tetapi jauh sebelum kebutuhan itu datang.

Dan kelima, persistensi yang lahir dari kemampuan untuk tetap berjalan, bahkan ketika hasil belum terlihat.

Prof. Rokhmin kemudian mengaitkan refleksi tersebut dengan konsep akademik dalam Manajemen Stratejik yang sangat ia kuasai, yaitu Path Dependence.

"Dalam Manajemen Stratejik, proses panjang semacam ini dikenal melalui konsep Path Dependence, bahwa posisi dan pilihan kita hari ini tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi dari keputusan, pengalaman, pembelajaran, relasi, reputasi, dan konsistensi yang dibangun pada masa lalu," jelas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu.

Artinya, jalan yang kita tempuh hari ini adalah bagian dari jejak yang kita bangun kemarin. Tidak ada keberhasilan yang terisolasi dari sejarah perjalanannya sendiri.

Menutup refleksinya, Prof. Rokhmin menegaskan sebuah kalimat yang menjadi kunci dari keseluruhan film Erica Laurie tersebut.

"Sebab pada akhirnya, apa yang tumbuh di permukaan selalu merupakan cermin dari apa yang selama ini kita kerjakan dalam diam di bawah permukaan. Jika seluruh pekerjaan rumah itu dikerjakan dengan sabar, konsisten, dan tanpa jalan pintas, suatu saat buahnya akan terlihat. Bukan karena kita sibuk menunjukkan bahwa kita layak, tetapi karena perjalanan panjang itu sendiri telah menjadi bukti," tegasnya..

"Kredibilitas bukan sesuatu yang kita klaim. Ia adalah sesuatu yang waktu akhirnya tidak bisa lagi sembunyikan," sambung Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) ini.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat yang kuat di tengah era yang serba instan, di mana banyak orang ingin segera terlihat hebat di permukaan, namun lupa membangun akar yang kuat di kedalaman.

Komentar