Gula Darah Pernah 540, Om Piet Bagikan Kisah Ibu Nasi Box
ASKARA – Harapan untuk menjaga kesehatan menjadi bagian dari kisah yang dibagikan Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet. Kali ini, ia menceritakan pengalaman seorang perempuan berusia sekitar 50-an tahun, sebut saja Intan, yang sehari-hari membuat nasi box dan pernah mengalami kadar gula darah sangat tinggi.
Kisah tersebut dituangkan Om Piet dalam catatan bertajuk Indahnya Berbagi (Mari Kita Berbagi Selagi Bisa), Sabtu (8/8/2026). Ia mengisahkan pertemuannya dengan Intan yang berlangsung di sebuah kafe di kawasan Bintaro pada Juni 2026.
Om Piet merupakan lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan pernah berkarier di lingkungan Kompas Gramedia Group hingga memasuki masa pensiun pada 2019. Setelah pensiun, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan berbagi pengalaman terapi pijat serta akupresur kepada masyarakat.
Sejak sekitar 2011, Om Piet mengaku melakukan terapi pijat dan akupresur secara informal kepada orang-orang yang datang kepadanya. Kegiatannya dilakukan di berbagai tempat, mulai dari rumah, kantor, kafe hingga ruang terbuka. Ia menyebut aktivitas tersebut sebagai bentuk kepedulian dan berbagi kepada sesama.
Dalam kisah Intan, Om Piet menyebut perempuan tersebut pernah mengalami kadar gula darah hingga 540 mg/dL dan sempat kehilangan kesadaran. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani pengobatan dan pemantauan medis.
Intan sendiri menjalankan usaha pembuatan nasi box setelah suaminya meninggal sekitar 10 tahun lalu. Pekerjaan itu membuat pola aktivitasnya tidak teratur. Ia harus berbelanja bahan pada malam atau dini hari, kemudian memasak dan menyiapkan makanan untuk pelanggan.
Atas saran seorang teman, Intan kemudian bertemu Om Piet untuk menjalani terapi akupresur. Menurut Om Piet, terapi dilakukan beberapa kali dan tetap disertai pemantauan dokter.
Beberapa waktu setelah pertemuan pertama, Intan mengabarkan bahwa kadar gula darahnya berada di kisaran 135 mg/dL. Menurut penuturannya kepada Om Piet, dokter kemudian melakukan penyesuaian terhadap dosis insulin yang digunakannya.
Kabar terbaru disampaikan Intan ketika kembali bertemu Om Piet pada Rabu. Ia menyebut dosis insulin yang sebelumnya 10-10-10 unit, yakni pagi, siang dan malam, telah diturunkan dokter menjadi 0-0-5, atau hanya lima unit pada malam hari.
"Om Piet, ini saya kasih kejutan," kata Intan sebagaimana dikutip Om Piet dalam catatannya.
Bagi Om Piet, kabar tersebut menjadi sesuatu yang menggembirakan. Ia menilai perubahan kondisi kesehatan Intan menunjukkan pentingnya menjaga semangat, pola hidup dan tetap mengikuti pemantauan medis.
Intan juga mengaku merasakan perubahan pada tubuhnya. Pakaian yang sebelumnya pas kini terasa lebih longgar. Anak-anaknya kemudian mendorong agar sang ibu tetap menjaga kesehatan dan rutin menjalani pemeriksaan.
Om Piet mengaitkan pengalaman tersebut dengan aspek psikologis dalam proses pemulihan, termasuk kemungkinan adanya efek placebo. Namun, ia menegaskan pentingnya pengawasan dokter, khususnya bagi pasien yang menggunakan insulin.
Bukan Pengganti Pengobatan Medis
Pengalaman yang dibagikan Om Piet merupakan testimoni dan catatan pribadi mengenai pasien yang ditemuinya, sehingga tidak dapat dijadikan bukti ilmiah bahwa terapi pijat atau akupresur dapat menurunkan gula darah maupun mengurangi kebutuhan insulin.
Penurunan dosis insulin juga tidak boleh dilakukan berdasarkan terapi alternatif atau keputusan pasien sendiri. Perubahan dosis harus ditentukan dokter berdasarkan pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.
Bagi Om Piet, kisah Intan bukan semata-mata tentang angka gula darah, melainkan tentang pentingnya memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang berjuang menjaga kesehatannya.
"Masih ada nyala lilin harapan di ujung terowongan nan gelap," tulis Om Piet menutup catatannya.

Komentar