Kamis, 24 September 2026 | 03:43
LIFESTYLE

Rumah Paritrana Hadir di Sukoharjo, Angkat Warisan Herbal Nusantara

Rumah Paritrana Hadir di Sukoharjo, Angkat Warisan Herbal Nusantara
Rumah Paritrana Hadir di Sukoharjo (Dok Irwan)

ASKARA - Upaya merawat warisan kesehatan tradisional Nusantara segera mendapat ruang baru di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Organisasi Kemasyarakatan Ikatan Paritrana Indonesia (IPI) tengah menyiapkan peluncuran Rumah Paritrana, sebuah wadah yang digagas untuk memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pendekatan kesehatan jasmani dan rohani.

Berlokasi di Jalan Sidomukti RT 01 RW 10, Gayam, Sukoharjo, Rumah Paritrana dirancang menjadi tempat masyarakat mengenal dan memanfaatkan kekayaan rempah-rempah Nusantara, termasuk melalui layanan kesehatan tradisional dan herbal.

Ketua IPI sekaligus penggagas Rumah Paritrana, Bagus Hartawan, mengatakan nama Paritrana diambil dari bahasa Sanskerta yang bermakna pertolongan. Filosofi tersebut menjadi landasan pendirian rumah yang diharapkan dapat menjadi ruang pengabdian dan kebermanfaatan bagi sesama.

“Paritrana memiliki makna pertolongan. Dengan maksud didirikan Rumah Paritrana adalah nanti bisa sebagai tempat untuk memberi pertolongan kepada masyarakat tentang penanganan kesehatan jasmani dan rohani secara tradisional menurut warisan budaya Nusantara,” ungkap Bagus di Sukoharjo, Rabu (23/9/2026).

Menurut Bagus, Rumah Paritrana tidak hanya dimaknai sebagai tempat pelayanan, tetapi juga sebagai upaya menghidupkan kembali pengetahuan tradisional yang diwariskan leluhur. Melalui pengembangan potensi herbal, IPI berharap warisan Nusantara dapat terus dikenal sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Filosofi kebermanfaatan itu juga tercermin dalam logo Rumah Paritrana. Kelopak bunga yang melingkar melambangkan keindahan dan perlindungan diri, sedangkan gambar rumah menggambarkan tempat bernaung dan berkumpul bersama.

Adapun pohon dan akar merepresentasikan pentingnya memberi manfaat serta keikhlasan dalam pengabdian kepada sesama. Sementara matahari menjadi simbol semangat kehidupan yang terus menyinari dan memberi energi bagi lingkungan sekitarnya.

Selain Rumah Paritrana, IPI juga menyiapkan Kafe Jamu Yuge-yuge sebagai bagian dari upaya melestarikan tradisi minum jamu. Nama Yuge-yuge, menurut Bagus, dimaknai sebagai sesuatu yang berlangsung dari zaman ke zaman.

“Kami mengambil nama ini dari Kitab Bhagawadgita. Karena jamu ini akan tetap terus lestari, langgeng, yang akan bisa diminati dan akan selalu digunakan dari zaman ke zaman, mulai dari nenek moyang leluhur kita sampai sekarang,” jelasnya.

Bagus menjelaskan, nama Paritrana dan Yuge-yuge memiliki kesinambungan filosofi dengan ajaran dalam Bhagawadgita, khususnya tentang perlindungan, pengabdian, dan penegakan kebenaran yang hadir dari zaman ke zaman.

Melalui Rumah Paritrana dan Kafe Jamu Yuge-yuge, IPI berharap nilai-nilai luhur Nusantara tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat lintas generasi.

 

Komentar