Di Tengah Perjuangan Melawan Penyakit, Seorang Ibu Menyimpan Harapan bagi Keluarganya
ASKARA - Di balik senyum seorang ibu, tersimpan perjuangan panjang melawan penyakit. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi kesehatan anak dan ibunya. Di tengah perjalanan yang tidak mudah itu, harapan menjadi sesuatu yang terus ia genggam.
Kisah tersebut diceritakan Pieter Dasion, atau yang akrab disapa Om Piet, tentang Mu*ni, seorang ibu berusia 40-an yang datang bersama suami, anak, dan ibunya ke tempat terapi di Kemang Pratama, Bekasi, Sabtu lalu.
Mu*ni tengah berjuang menghadapi spondiloartritis, penyakit autoimun yang menurut penuturannya menyerang tulang belakang dan sejumlah sendi. Sejak awal 2023, ia mengalami masalah saraf terjepit hingga harus menjalani operasi. Setelah operasi, ia bahkan sempat tidak bisa berjalan selama lima bulan.
Pemeriksaan lanjutan kemudian menunjukkan hasil ANA positif, yang menjadi bagian dari proses penegakan diagnosis autoimun. Dalam perjalanannya, Mu*ni mengaku harus mengonsumsi obat untuk menekan sistem kekebalan tubuh, termasuk obat yang ia sebut sebagai kemoterapi, serta pereda nyeri yang diminum ketika keluhan kambuh.
Namun, perjuangan Mu*ni tidak berhenti pada dirinya sendiri. Sang ibu memiliki riwayat penyakit jantung dan telah menjalani pemasangan tiga ring. Sementara putrinya, Ra**el, yang berusia 15 tahun dan duduk di kelas satu SMA, disebut telah didiagnosis dokter mengalami Sindrom Turner.
Di tengah kondisi keluarga yang membutuhkan perhatian medis, Mu*ni mencoba terapi pijat telapak tangan yang dilakukan Om Piet. Pertemuan itu menjadi ruang untuk berbagi cerita, menyampaikan keluhan, sekaligus mengikuti perkembangan kondisi setelah terapi.
Sehari setelah pertemuan tersebut, Om Piet menanyakan keadaan Muni. Sebelumnya, Muni sempat mengabarkan bahwa warna urinenya tampak kehijauan, sementara putrinya mengalami demam pada sore hari. Om Piet sempat menduga hal itu berkaitan dengan proses “detoksifikasi”. Namun, dugaan tersebut merupakan interpretasi pribadi terapis dan tidak dapat dipastikan sebagai respons tubuh terhadap terapi tanpa pemeriksaan medis.
Jawaban Muni pada Senin pagi membawa kabar yang membuatnya bersyukur. “Puji Tuhan sehat dan badan Muni juga jauh lebih enak dan enteng, Om,” tulisnya kepada Om Piet.
Mu*ni juga mengungkapkan bahwa rasa nyeri yang biasanya masih muncul meski telah mengonsumsi obat, kali ini terasa berkurang. Ia menyebut sudah dua hari tidak mengonsumsi obat pereda nyeri. Meski demikian, ia menegaskan masih melanjutkan obat dari dokter karena belum berani menghentikannya sepenuhnya.
Bagi Om Piet, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang yang datang membawa cerita dan harapan masing-masing. Ia memandang terapi yang dilakukannya sebagai ikhtiar pendamping, bukan pengganti pemeriksaan, pengobatan, maupun pengawasan dokter.
“Terapi saya berjalan bersamaan dengan obat dokter. Dokter punya ukuran untuk menilai kondisi kesehatan melalui pemeriksaan, foto, scan, dan hasil laboratorium,” demikian pesan Om Piet dalam ceritanya.
Lulusan Teknik Universitas Indonesia dan pensiunan Kompas Gramedia Group itu telah menekuni terapi akupresur sejak 2011. Meski demikian, pengalaman yang dirasakan seseorang setelah terapi tidak serta-merta membuktikan bahwa terapi menjadi penyebab perbaikan kondisi medis. Setiap perubahan kesehatan tetap perlu dinilai oleh tenaga medis yang menangani pasien.
Di akhir pesannya, Mu*ni menyampaikan harapan yang sederhana, tetapi begitu dalam. Ia berharap dapat kembali bertemu Om Piet dua pekan mendatang, sembari terus berdoa agar ada mukjizat Tuhan bagi dirinya dan terutama bagi Ra**el.
“Mu*ni masih berharap mukjizat dari Tuhan lewat tangan Om,” tulisnya.
Bagi sebuah keluarga yang tengah menghadapi ujian kesehatan, harapan itu bukan sekadar kalimat. Ia menjadi cahaya kecil yang dijaga di tengah lorong panjang perjuangan—bersama doa, kasih sayang keluarga, dan ikhtiar medis yang terus dijalani.
Semoga Mu*ni, ibunya, dan Ra**el senantiasa diberi kekuatan. Sebab, di tengah ketidakpastian, kasih dan harapan sering kali menjadi alasan untuk terus melangkah.

Komentar