Dr Rensa: Menua Sehat Bukan Bebas Penyakit, tapi Tetap Bugar dan Berfungsi
ASKARA - Memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang harus berhenti bergerak. Justru aktivitas fisik yang dilakukan secara tepat dan teratur menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan kebugaran, kekuatan otot, keseimbangan hingga fungsi kognitif di usia emas.
Hal tersebut disampaikan Dr. Dr. Rensa, Sp.PD, Subsp. Ger (K), FINASIM, saat menjadi pembicara dalam Pelatihan dan Sertifikasi Instructor Chair Exercise (ICE) bagi para Instruktur Osteoporosis Perwatusi (IOP), yang digelar Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat-Sabtu (18-19/9/2026).
Mengangkat topik “Tetap Bugar di Usia Emas: Peran Senam Osteoporosis untuk Aspek Fisik dan Kognitif”, Dr. Rensa menjelaskan bahwa proses penuaan merupakan bagian alamiah kehidupan yang tidak dapat dihentikan.
Karena itu, tujuan utama menjaga kesehatan lansia bukan semata-mata membuat seseorang terbebas dari penyakit. Yang jauh lebih penting adalah mempertahankan kemampuan fungsional agar tetap dapat menjalani kehidupan secara mandiri dan bermanfaat.
“Menua sehat ternyata tidak harus bebas dari penyakit. Yang penting penyakit kronisnya terkendali dan kemampuan fungsional kita tetap dipertahankan selama mungkin,” ujar Dr. Rensa.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia telah memasuki fase masyarakat menua. Berdasarkan data yang dipaparkannya, proporsi penduduk lanjut usia Indonesia telah berada di kisaran hampir 12 persen, sementara usia harapan hidup telah melampaui 70 tahun.
Kondisi tersebut, menurutnya, akan membawa perubahan besar dalam pelayanan kesehatan. Dunia kedokteran dan masyarakat perlu bersiap menghadapi semakin banyaknya kelompok usia lanjut dengan kebutuhan kesehatan yang berbeda dibandingkan kelompok usia muda.
“Anak-anak kedokteran nanti akan lebih banyak bertemu orang tua daripada bayi dan balita. Karena itu, ilmu tentang lansia harus dipelajari dengan baik,” katanya.
Menurut Dr. Rensa, proses penuaan membawa sejumlah perubahan pada tubuh. Penglihatan dan pendengaran dapat menurun, kemampuan mengecap rasa berubah, kekuatan otot berkurang, keseimbangan terganggu, hingga fungsi kognitif mengalami perubahan.
Penurunan massa otot atau sarcopenia juga menjadi salah satu persoalan penting pada lansia. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kekuatan, kemampuan berjalan dan kemandirian seseorang.
Karena itu, olahraga pada lansia tidak dapat dilakukan sembarangan. Latihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, termasuk memperhatikan tekanan darah, kondisi jantung dan paru, riwayat cedera serta keamanan lingkungan tempat berolahraga.
Dr. Rensa juga menekankan adanya hubungan antara otot dan otak. Ketika tubuh aktif bergerak, otot menghasilkan berbagai molekul yang berperan dalam mendukung fungsi otak. Salah satunya adalah brain-derived neurotrophic factor (BDNF), yang berkaitan dengan fungsi dan kesehatan otak.
Ia memaparkan hasil penelitian timnya terhadap kelompok lansia berusia 60-75 tahun. Dalam program tersebut, peserta mengikuti latihan fisik selama 12 minggu yang kemudian dilanjutkan dengan aktivitas interaksi sosial bersama anak.
Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pada sejumlah aspek, antara lain kekuatan genggam tangan, kecepatan berjalan dan fungsi kognitif. Peningkatan tersebut juga terlihat lebih baik ketika aktivitas fisik disertai kegiatan sosial.
“Ini membuktikan bahwa ada hubungan antara olahraga, otot dan fungsi otak. Ketika lansia bergerak dan tetap berinteraksi, manfaatnya tidak hanya dirasakan tubuh, tetapi juga dapat mendukung fungsi kognitif,” jelasnya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat lanjut usia untuk tetap aktif. Namun, aktivitas fisik perlu dibedakan dengan olahraga terstruktur. Kegiatan seperti menyapu dan mengepel merupakan aktivitas fisik sehari-hari, sedangkan olahraga dilakukan secara terencana, teratur dan konsisten.
Dr. Rensa mengingatkan agar latihan tetap mengikuti kemampuan tubuh. Ketika kondisi fisik sedang tidak fit, baru mengalami cedera atau lingkungan tidak aman, latihan sebaiknya disesuaikan dan tidak dipaksakan.
“Yang penting tetap aktif bergerak, tetapi harus melihat kondisi tubuh dan lingkungan. Jangan memaksakan olahraga ketika kondisi tidak memungkinkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kombinasi latihan, mulai dari penguatan otot, keseimbangan, fleksibilitas hingga latihan aerobik. Paparan sinar matahari dalam kadar yang sesuai juga dapat mendukung kesehatan tulang melalui peran vitamin D.
Bagi para instruktur osteoporosis, pesan tersebut menjadi penting karena senam lansia bukan sekadar aktivitas untuk menggerakkan tubuh. Dengan program yang tepat, olahraga dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemandirian, kesehatan tulang, kekuatan otot dan fungsi kognitif.
Pada akhirnya, usia emas bukan tentang seberapa jauh seseorang dapat menghindari proses penuaan. Yang lebih penting adalah bagaimana tetap bergerak, tetap berfungsi dan tetap memiliki kualitas hidup ketika usia terus bertambah.

Komentar