Kamis, 06 Agustus 2026 | 12:25
LIFESTYLE

Stroke 12 Tahun, Apa yang Terjadi Setelah Dipijat 15 Menit?

Stroke 12 Tahun, Apa yang Terjadi Setelah Dipijat 15 Menit?
Ilustrasi Om Piet dan pasien stroke (Dok Askara)

ASKARA - Praktisi terapi pijat dan akupresur Pieter Dasion, yang akrab disapa Om Piet, kembali membagikan pengalaman menangani sejumlah pasien dengan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari pembengkakan kaki, gangguan kulit, hingga stroke. Kisah tersebut ia tuliskan dalam catatan bertajuk Indahnya Berbagi (Mariberbagiselagibisa) yang dibagikan pada Kamis (6/8/2026).

Om Piet dikenal sebagai lulusan Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan pensiunan Kompas Gramedia Group. Sejak sekitar 2011, ia aktif melakukan terapi pijat refleksi dan akupresur kepada masyarakat secara sukarela di berbagai lokasi, seperti rumah warga, kafe, kantor, hingga ruang terbuka. Menurutnya, terapi yang dilakukannya merupakan bentuk kepedulian sosial untuk membantu sesama dan bukan dimaksudkan sebagai pengganti pengobatan medis.

Salah satu pasien yang diceritakan adalah seorang perempuan berusia 72 tahun yang mengalami pembengkakan pada kedua kaki hingga kesulitan berjalan dan harus mengenakan sandal jepit ke tempat kerja. Menurut Om Piet, setelah menjalani terapi pijat yang difokuskan pada titik-titik yang diduganya berkaitan dengan fungsi jantung dan ginjal, pembengkakan berangsur menghilang.

Ia juga mengisahkan seorang karyawati berusia 20-an tahun yang mengalami bercak merah pada wajah, leher, bahu, dan tangan. Om Piet menduga keluhan tersebut mengarah pada gangguan autoimun kulit, meski belum didiagnosis dokter. Setelah menjalani terapi pijat selama beberapa waktu, ia mengklaim kondisi kulit pasien menunjukkan perbaikan.

Selain itu, ia menyebut membantu seorang pria berusia sekitar 70 tahun yang telah mengalami stroke selama 12 tahun. Setelah tiga kali menjalani terapi, pasien tersebut diklaim mampu berjalan lebih baik tanpa tongkat dan kemampuan bicaranya mulai membaik.

Tak hanya itu, Om Piet juga menceritakan seorang perempuan muda yang mengalami kenaikan berat badan disertai mudah lelah. Berdasarkan pengamatannya, ia menduga pasien tersebut mengalami hipotiroid dan menyarankan agar menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan penyebab keluhannya.

Dalam berbagai kesempatan, Om Piet menyatakan terapi akupresur yang dilakukannya dapat dijalankan bersamaan dengan pengobatan medis. Ia juga kerap mengingatkan pasien untuk tetap berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan sesuai kondisi kesehatannya.

Meski demikian, berbagai pengalaman yang dibagikan Om Piet merupakan testimoni dan kisah pribadi para pasien. Klaim mengenai manfaat terapi pijat dan akupresur tersebut belum dapat dianggap sebagai bukti ilmiah yang membuktikan efektivitasnya dalam mengobati penyakit seperti stroke, gangguan autoimun, maupun kelainan organ. Penanganan kondisi-kondisi tersebut tetap memerlukan diagnosis, evaluasi, dan terapi dari tenaga kesehatan yang berwenang berdasarkan bukti medis.

Om Piet menutup catatannya dengan mengajak masyarakat untuk terus berbagi kebaikan kepada sesama serta mendoakan agar para pasien yang pernah ditanganinya memperoleh kesehatan dan kualitas hidup yang semakin baik.

 

Komentar