Klarifikasi Keberadaan Makam di Sebelah Barat Makam Adipati Wirasaba VI
Klarifikasi Keberadaan Makam di Sebelah Barat Makam Adipati Wirasaba VI
ASKARA — Penjelasan mengenai keberadaan makam di sebelah barat Makam Adipati Wirasaba VI atau Adipati Warga Hutama di Pesarean Warga Hutama, Dusun Kiringan, Desa Klampok, Kecamatan Purworejo Klampok, Kabupaten Banjarnegara, mendapat klarifikasi dari pihak keluarga keturunan.
Dalam buku Sejarah Banyumas edisi 1985 karya Roedjito disebutkan bahwa makam di sebelah barat tersebut merupakan makam sahabat Adipati Wirasaba VI bernama Raden Ngabehi Winoto yang disebut sebagai keturunan Tionghoa. Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh keturunan langsung.
R.Ngt. Arini Sanjaya, SE, keturunan Raden Ngabehi Mertadiwangsa, menegaskan bahwa penulisan nama dan keterangan dalam buku tersebut merupakan kekeliruan.
“Itu kesalahan penulisan yang fatal dan tidak benar. Makam tersebut adalah makam Raden Ngabehi Mertadiwangsa, bukan Raden Ngabehi Winoto,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan tradisi keluarga yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, makam yang berada di sebelah barat Makam Adipati Warga Hutama adalah makam leluhur mereka, Raden Ngabehi Mertadiwangsa. Tradisi ziarah rutin telah dilakukan sejak masa neneknya, R.Ngt. Sugiasih Mertaadmaja, hingga generasi sebelumnya.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa terdapat perbedaan waktu yang cukup jauh antara masa hidup Raden Ngabehi Mertadiwangsa dengan Adipati Wirasaba VI.
Adipati Warga Hutama atau Adipati Sedo Bener merupakan Adipati Wirasaba VI yang hidup pada masa Kerajaan Pajang sekitar abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Sementara itu, Raden Ngabehi Mertadiwangsa diperkirakan hidup pada kisaran abad ke-19, atau sekitar 300 tahun setelah masa Adipati Wirasaba VI.
Dengan perbedaan waktu tersebut, Arini menilai tidak tepat jika keduanya disebut sebagai sahabat, sebagaimana tertulis dalam buku tersebut.
Lebih lanjut, ia juga meluruskan informasi terkait asal-usul Raden Ngabehi Mertadiwangsa yang disebut sebagai keturunan Tionghoa. Menurutnya, hal tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah keluarga.
“Raden Ngabehi Mertadiwangsa adalah asli Jawa. Beliau merupakan putra dari Patih Danurejo I atau Yudonegoro III, dan ibundanya berasal dari garis keturunan Sunan Kalijaga,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemungkinan adanya keturunan yang memiliki latar belakang Tionghoa terjadi pada generasi berikutnya melalui pernikahan, bukan pada sosok Raden Ngabehi Mertadiwangsa sendiri.
Klarifikasi ini, lanjutnya, telah mendapat persetujuan dari pihak keluarga besar, termasuk Drs. R. Djuhartanto yang merupakan cucu dari R. Yudo Atmodjo, sebagai bagian dari pelurusan sejarah berdasarkan silsilah keluarga.
Dengan adanya penjelasan ini, diharapkan informasi mengenai sejarah dan keberadaan makam di kawasan Pesarean Warga Hutama dapat dipahami secara lebih akurat oleh masyarakat.

Komentar