Prof. Rokhmin Dahuri: Sabang Harus Jadi Poros Maritim Dunia, Bukan Sekadar Lintasan
ASKARA - Sabang kembali menjadi sorotan nasional. Pada Jumat (24/4), Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus pakar kelautan Indonesia, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., melakukan kunjungan kerja ke Kota Sabang, Provinsi Aceh. Didampingi Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, ia meninjau langsung Pelabuhan CT-3 (Cargo Terminal-3), dermaga strategis yang pernah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran di ujung barat Nusantara.
Pelabuhan CT-3 yang dikelola oleh Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) memiliki keunggulan teknis yang jarang dimiliki pelabuhan lain di Indonesia. Dengan panjang dermaga sekitar 400 meter dan kedalaman kolam -10 meter LWS, pelabuhan ini mampu menampung kapal besar hingga LOA 230 meter. Kondisi perairan Sabang yang alami dan dalam membuatnya berpotensi menjadi pelabuhan internasional tanpa biaya pengerukan rutin yang besar.
Dalam pandangan Prof. Rokhmin, Sabang bukan sekadar aset daerah, melainkan aset strategis nasional. “Sabang berada di jalur penting Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Eropa dengan pusat ekonomi Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor ini.
Ia bahkan menilai posisi Sabang lebih kompetitif dibandingkan Pelabuhan Singapura maupun Port Klang dan Tanjung Pelepas di Malaysia. “Sabang terletak di ujung barat Selat Malaka. Posisi ini menjadikannya simpul penting dalam perdagangan global, bukan hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi distribusi komoditas dunia,” ujarnya.
Data CSIS (Center for Strategic and International Studies) per 22 April 2026 menunjukkan Selat Malaka menyumbang 21,6% perdagangan maritim global, menjadikannya jalur laut paling vital di dunia. Dengan letak geografis yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Thailand, dan India, serta dikelilingi Samudera Hindia dan Laut Andaman, Sabang memiliki nilai geopolitik dan geoekonomi yang luar biasa.
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2094 itu menekankan perlunya revitalisasi Pelabuhan CT-3 yang terintegrasi dengan kawasan industri, sistem logistik modern, dan manajemen rantai pasok terpadu. “Dengan tata kelola profesional, konektivitas multimoda, serta digitalisasi layanan pelabuhan, CT-3 bisa menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi baru bagi Sabang, Aceh, bahkan Indonesia,” katanya.
Selain fungsi logistik, dermaga ini juga berpotensi menjadi titik sandar kapal pesiar internasional. “Sektor pariwisata bahari Sabang bisa semakin kuat, membuka peluang bagi UMKM lokal, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat,” tambah Ketum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini
Pandangan ini disambut positif oleh Teuku Ardiansyah, Deputi Komersial dan Investasi BPKS Sabang. Ia menyampaikan apresiasi atas perhatian Prof. Rokhmin terhadap masa depan pelabuhan dan ekonomi maritim Sabang.
Di akhir kunjungan, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Sabang harus kembali menjadi pusat pertumbuhan ekonomi maritim di ujung barat Indonesia. “Penguatan Pelabuhan CT-3 sejalan dengan visi besar menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Komentar