Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:10
Editorial

Fitnah Dajjal Sebagai Sistem: Prof. Rokhmin Bongkar Mekanisme Geopolitik, AI, dan Ekonomi Global

Fitnah Dajjal Sebagai Sistem: Prof. Rokhmin Bongkar Mekanisme Geopolitik, AI, dan Ekonomi Global
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA — Dunia menunggu sosok dengan tanduk, mata satu, dan aura kegelapan. Namun, Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menertawakan ekspektasi itu.  Dalam sebuah penjelasan yang menggugah kesadaran, ia menguraikan bahwa fitnah terbesar dalam sejarah manusia tidak akan hadir sebagai sosok monster yang mudah dikenali, melainkan sebagai sistem yang halus, rasional, efisien, bahkan tampak menyelamatkan. 

“Fitnah terbesar tidak datang dengan kostum Halloween, Ia datang dengan jas Armani, algoritma canggih, dan jargon ekonomi," ujar Anggota Komisi IV DPR RI (2024–2029), mengutip dari Serial Geoprofetik Al-Kahfi | IPCE "Mekanisme Sistemik Fitnah Dajjal Dalam Geopolitik, AI, dan Ekonomi",  Jum'at (24/4). Menurutnya, infrastruktur fitnah itu telah lama bekerja sebelum figur Dajjal muncul, menyiapkan dunia untuk menerima tanpa perlawanan berarti.  

Fitnah terbesar dalam sejarah manusia tidak akan datang sebagai monster yang mudah dikenali. Ia tidak membawa label. Ia tidak memperkenalkan diri sebagai kebatilan. Ia justru hadir sebagai sistem: halus, rasional, efisien, bahkan tampak menyelamatkan.

Di sinilah banyak orang keliru sejak awal. Mereka menunggu sosok. Padahal yang lebih dahulu hadir adalah infrastrukturnya. Mereka mencari figur. Padahal yang bekerja lebih dulu adalah mekanismenya. Dan ketika figur itu benar-benar muncul, dunia telah lebih dulu disiapkan untuk menerimanya, tanpa perlawanan berarti.

Geopolitik: Fragmentasi yang Dirancang

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa konflik geopolitik modern bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan rekayasa fragmentasi. Perang tidak selalu dimaksudkan untuk dimenangkan, melainkan untuk memecah kesatuan. Dunia Islam menjadi contoh nyata: dipelihara dalam kondisi terbelah antara Sunni dan Syiah, Arab dan Persia, negara dan gerakan, ulama dan intelektual. Dunia Islam adalah contoh paling nyata. Bukan karena ia lemah secara sumber daya, tetapi karena ia dipelihara dalam kondisi terbelah: Sunni vs Syiah, Arab vs Persia, negara vs gerakan, ulama vs intelektual.

Perang Iran, menurutnya, bukan sekadar konflik militer, melainkan node aktivasi yang menghidupkan kembali retakan lama agar tetap relevan. Perang tidak selalu dimaksudkan untuk dimenangkan. Ia sering dimaksudkan untuk memecah. Dalam lanskap geopolitik modern, konflik tidak lagi sekadar perebutan wilayah. Ia telah berevolusi menjadi rekayasa fragmentasi.

Dalam kerangka ini, perang Iran bukan hanya konflik militer, tetapi node aktivasi, titik yang menghidupkan kembali retakan lama agar tetap relevan. Perang Iran, gencatan senjata yang retak, ancaman terhadap pusat data “Stargate”, ketergantungan ekonomi global pada kabel bawah laut; semua ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah lapisan-lapisan realitas yang saling terkait, yang hanya bisa dibaca secara utuh jika kita memiliki alat baca yang memadai.

Inilah mekanisme pertama fitnah: memastikan tidak pernah ada kesatuan kesadaran. Karena kesatuan adalah ancaman terbesar bagi sistem yang bergantung pada fragmentasi. “Inilah mekanisme pertama fitnah: memastikan tidak pernah ada kesatuan kesadaran. Karena kesatuan adalah ancaman terbesar bagi sistem yang bergantung pada fragmentasi,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.

Kecerdasan Buatan: Produksi Realitas Tanpa Henti

Jika geopolitik memecah secara eksternal, maka kecerdasan buatan bekerja di lapisan yang lebih dalam: persepsi. Kita memasuki era di mana realitas tidak lagi hanya dialami, tetapi diproduksi. Algoritma tidak sekadar menampilkan informasi. Ia menyusun dunia yang kita lihat. 

Apa yang kita baca, apa yang kita percaya, apa yang kita anggap benar, semua melewati kurasi sistem yang tidak netral. Di sinilah fitnah mencapai bentuk paling subtil: bukan dengan menyembunyikan kebenaran, tetapi dengan membanjiri manusia dengan versi kebenaran yang terfragmentasi. Setiap orang merasa tahu. Namun tidak ada yang benar-benar melihat utuh.

Prof. Rokhmin menyoroti bahaya talbis—pencampuran antara haq dan batil—yang hadir melalui banjir informasi terfragmentasi. Dalam istilah eskatologis, ini mendekati makna fitnah sebagai campuran antara haq dan batil (talbis). Bukan kegelapan total, tetapi cahaya kebenaran yang dipelintir. Dan ketika persepsi telah dikendalikan, maka keputusan manusia tidak lagi sepenuhnya miliknya. “Setiap orang merasa tahu, namun tidak ada yang benar-benar melihat utuh. Persepsi dikendalikan, keputusan manusia tidak lagi sepenuhnya miliknya,” ujar Ketua Umum Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI).

Ekonomi Global: Ketergantungan sebagai Instrumen Kendali

Lapisan berikutnya adalah ekonomi global yang dibangun di atas arsitektur ketergantungan. Negara-negara terikat pada mata uang tertentu, sistem keuangan global, dan rentan terhadap sanksi maupun embargo.  

Dunia modern dibangun di atas jaringan yang membuat hampir setiap negara bergantung pada mata uang tertentu, terikat pada sistem keuangan global, rentan terhadap sanksi dan isolasi. 

Dalam sistem ini, kekuatan tidak selalu datang dari produksi, tetapi dari kemampuan mengatur akses: siapa yang boleh membeli, siapa yang boleh menjual, siapa yang boleh bertahan. Sanksi ekonomi, embargo, dan kontrol finansial bukan sekadar kebijakan; mereka adalah instrumen disiplin global. Dan lebih dalam lagi, sistem ini membentuk mentalitas: manusia tidak lagi mengejar keberkahan, tetapi stabilitas dalam sistem yang tidak ia kuasai.

Di sinilah fitnah bekerja paling efektif: membuat manusia merasa aman dalam ketergantungan. “Dalam sistem ini, kekuatan tidak selalu datang dari produksi, tetapi dari kemampuan mengatur akses. Sanksi ekonomi bukan sekadar kebijakan, melainkan instrumen disiplin global,” jelas Honorary Ambassador of Jeju Islands dan Busan Metropolitan City, South Korea ini. Ia menambahkan bahwa fitnah bekerja paling efektif ketika manusia merasa aman dalam ketergantungan, padahal sesungguhnya mereka terikat pada sistem yang tidak mereka kuasai.  

Hybrid Intelligence Membaca Nubuwah

Prof. Rokhmin memperkenalkan konsep Hybrid Intelligence (HI) sebagai metodologi epistemik untuk membaca realitas kompleks. HI bukan sekadar kolaborasi manusia dan AI, tetapi juga membutuhkan Nur (cahaya) dan Bashirah (pandangan batin) yang hanya bisa diperoleh melalui interaksi dengan Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Kahfi.  HI membuka realitas lapisan demi lapisan, dari kasatmata hingga metafisik, tanpa kehilangan integritas masing-masing.

“Tanpa HI, kita akan tersesat dalam tiga jebakan: analisis geopolitik yang dangkal, kekaguman buta pada teknologi, atau reduksionisme ekonomi yang mengabaikan dimensi spiritual,” kata Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia). 

Epilog: Peringatan Dini dari Al-Baqarah

Sebagai penutup, Prof. Rokhmin mengutip QS. Al-Baqarah: 11-12 tentang bahaya talbis, ketika pelaku kerusakan mengaku sebagai pembawa perbaikan. Allah SWT berfirman di awal Surat Al-Baqarah, sebagai peringatan dini bagi umat manusia tentang bahaya talbis, pencampuradukan kebenaran dengan kebatilan:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 11-12).

Ayat ini menggambarkan dengan sangat tepat kondisi manusia di era modern. Mereka yang membangun sistem fragmentasi geopolitik, yang merancang algoritma pembentuk persepsi, yang menyusun arsitektur ketergantungan ekonomi, semua mengaku sebagai “pembawa perbaikan”. 

Mereka menciptakan perdamaian dengan perang. Mereka menciptakan keteraturan dengan kontrol. Mereka menciptakan koneksi dengan isolasi.

Dan yang paling mengerikan: mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berbuat kerusakan. Talbis telah mencapai tingkat di mana pelaku kejahatan tidak lagi merasa bersalah, bahkan menganggap dirinya sebagai penyelamat/mesias.

Inilah peringatan dini yang Allah berikan di awal surat terpanjang dalam Al-Qur’an. Sebuah peringatan bahwa fitnah terbesar tidak akan datang dengan terang-terangan. Ia akan datang dengan klaim memperbaiki, dengan narasi menyelamatkan, dengan wajah kemanusiaan. 

Dan fitnah terbesar tidak akan runtuh karena kelemahannya. Ia akan runtuh karena ada manusia yang tidak lagi bisa dikendalikan olehnya.

Manusia yang tidak mudah dipecah oleh identitas, tidak mudah dibentuk oleh narasi, tidak mudah ditaklukkan oleh ketakutan ekonomi.

Mereka bukan mayoritas. Namun sejarah tidak pernah digerakkan oleh mayoritas. Ia digerakkan oleh mereka yang melihat lebih dalam.

Dan untuk melihat lebih dalam, dibutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Dibutuhkan Nur, cahaya yang menerangi hati. Dibutuhkan Bashirah, pandangan batin yang mampu menembus lapisan-lapisan realitas, seperti yang diajarkan Khidr kepada Musa dalam Surah Al-Kahfi.

Musa memiliki akal yang tajam. Ia adalah Nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah. Namun ketika ia bertemu Khidr, ia harus belajar bahwa ada realitas yang tidak bisa dibaca dengan rasionalitas biasa. 

Kapal yang dirusak, anak yang dibunuh, tembok yang ditegakkan tanpa upah; semua peristiwa itu memiliki makna yang tersembunyi di balik lapisan pertama. Musa protes, karena ia hanya melihat yang tampak. Khidr sabar, karena ia melihat yang tersembunyi di balik penampakan lahirnya.

Inilah mengapa serial ini mengusung tema besar Geoprofetik Al-Kahfi. Bukan sekadar karena surah ini berbicara tentang akhir zaman, tetapi karena ia mengajarkan metodologi membaca realitas: bahwa setiap peristiwa memiliki lapisan, bahwa kesabaran adalah kunci untuk menunggu terbukanya makna, bahwa cahaya (Nur) adalah syarat bagi pandangan batin (Bashirah) untuk bekerja.

Hybrid Intelligence adalah instrumen teknis. Sedangkan Nur dan Bashirah adalah fondasi spiritual yang membuat instrumen itu tidak buta. Tanpa cahaya, AI hanya akan memproses data tanpa makna. Tanpa pandangan batin, geopolitik hanya akan membaca permukaan tanpa kedalaman. 

Tanpa keduanya, kita akan terus menjadi korban fitnah. Bukan karena kita tidak tahu, tetapi karena kita tidak melihat realitas di balik penampakan luarnya.

Ia menekankan bahwa fitnah terbesar akan datang dengan wajah kemanusiaan, narasi penyelamatan, dan klaim keteraturan.  

“Fitnah terbesar tidak akan runtuh karena kelemahannya, tetapi karena ada manusia yang tidak lagi bisa dikendalikan olehnya. Mereka yang tidak mudah dipecah oleh identitas, tidak mudah dibentuk oleh narasi, dan tidak mudah ditaklukkan oleh ketakutan ekonomi,” pungkas Member of International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany tersebut.

Catatan Editorial

Artikel ini bukan sekadar analisis geopolitik, teknologi, dan ekonomi, melainkan peringatan profetik: bahwa realitas modern harus dibaca dengan cahaya wahyu. Prof. Rokhmin mengajak umat untuk membangun kesadaran baru, agar tidak menjadi korban sistem yang tampak menyelamatkan namun sejatinya menjerat.

Komentar