Rabu, 17 Juni 2026 | 16:50
OPINI

Asuransi Upah Antisipasi Gempuran AI

Asuransi Upah Antisipasi Gempuran AI
Ilustrasi asuransi upah antisipasi gempuran AI (Dok Askara)

Oleh: Ismunandar

ASKARA - Pernah dengar istilah "asuransi upah"? Jangan bayangkan klaim kecelakaan kerja. Ini ide cerdas yang mungkin jadi penyelamat kita di era AI.

Begini ceritanya. Bayangkan Anda pekerja pabrik dengan gaji lumayan. Tiba-tiba, AI dan robot menggantikan posisi Anda. Anda pindah kerja ke toko dengan gaji setengahnya. Nah, asuransi upah akan menambal kerugian Anda—setidaknya untuk dua tahun pertama. Pemerintah mengganti separuh selisih gaji yang hilang. Hasilnya? Anda tetap bisa makan, anak tetap sekolah, dan Anda punya waktu untuk beradaptasi.

Para ekonom seperti David Autor dari MIT menyebut ini solusi "tanpa penyesalan". Artinya, baik AI datang cepat atau lambat, kebijakan ini tetap berguna. Dan yang menarik: program seperti ini pernah terbukti membiayai dirinya sendiri—karena orang lebih cepat kembali bekerja dan tetap membayar pajak.

Ancaman AI tidak main-main. CEO Anthropic, Dario Amodei, memperingatkan bahwa separuh pekerjaan kantor tingkat pemula bisa lenyap. Bukan cuma buruh pabrik yang terancam, tapi juga para "kerah putih". Sementara itu, para raksasa teknologi berlomba membangun AI tanpa memikirkan nasib pekerja yang tergilas.

Lalu bagaimana sikap negara-negara besar?

Di AS, asuransi upah sebenarnya sudah diusulkan Obama pada 2016, tapi mandek. Di era Trump, fokusnya malah ke deregulasi—memberi jalan lebar bagi AI tanpa jaring pengaman yang memadai.

Di Inggris, pendekatannya lebih hati-hati. Mereka sedang mempertimbangkan aturan yang mewajibkan perusahaan menilai risiko AI terhadap pekerja sebelum menerapkannya. Lebih ke arah pencegahan, bukan sekadar kompensasi.

Intinya, AI akan datang, cepat atau lambat. Pertanyaannya bukan "apakah", tapi "bagaimana kita siap?" Asuransi upah bukan obat mujarab, tapi setidaknya ini ide konkret yang membuat pekerja tidak dibiarkan jatuh sendirian. Di tengah hiruk-pikuk teknologi, terkadang solusi terbaik justru sederhana: pastikan yang kalah tetap bisa bangkit. Bagaimana di kita?

 

 

Komentar