Prof. Rokhmin Dahuri Tegaskan Hilirisasi Kedelai Lokal Jalan Kedaulatan Pangan Indonesia
ASKARA – Dalam sebuah gagasan visioner yang menggugah kesadaran bangsa, Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menegaskan bahwa kedaulatan pangan Indonesia tidak akan pernah terwujud jika negeri ini terus bergantung pada impor kedelai.
Dengan tema “Pengembangan Hilirisasi dan Budidaya Kedelai Varietas Asli Indonesia: Solusi untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan Rakyat Indonesia secara Berkelanjutan”, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berani berpihak pada produk lokal.
Ketergantungan Impor: Sebuah Kegagalan Cara Pandang
Selama puluhan tahun, Indonesia seolah digiring untuk menerima narasi bahwa kedelai lokal tidak unggul dan tidak layak menjadi basis produksi nasional. Ketua Bidang Kelautan-Perikanan DPP PDI Perjuangan tersebut menepis pandangan tersebut dengan tegas.
Menurutnya, Indonesia memiliki lahan luas, plasma nutfah beragam, serta kapasitas inovasi yang cukup untuk membangun kemandirian kedelai. “Ketergantungan impor bukan keniscayaan, melainkan kegagalan cara pandang,” ujar Ketua Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) dalam keterangannya, Rabu (22/4).
Bangsa Tempe Harus Berdaulat
Sebagai bangsa dengan konsumsi tempe dan tahu tertinggi di dunia, Indonesia semestinya mampu memenuhi kebutuhan kedelai dari produksi domestik. Kedelai lokal, seperti varietas Grobogan, terbukti memiliki kandungan protein tinggi, cita rasa khas, serta sifat non-GMO yang lebih sehat. Namun, hingga kini kedelai lokal belum memperoleh dukungan sistemik dalam tata niaga nasional. “Bangsa tempe harus berdaulat atas bahan baku sendiri,” tegas Prof. Rokhmin.
Ilmu Pengetahuan Membuktikan Kedelai Lokal Kompetitif
Hasil riset menunjukkan bahwa kendala utama bukan pada agroekologi, melainkan distribusi benih, pembiayaan, penyuluhan, dan kepastian pasar. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi, kedelai lokal dapat menjadi komoditas strategis yang berdaya saing tinggi.
Kedelai: Instrumen Ekonomi dan Ekologi
Prof. Rokhmin juga menekankan fungsi ekologis kedelai. Tanaman ini mampu mengikat nitrogen dari udara melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium, sehingga memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Dengan demikian, pengembangan kedelai bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Hilirisasi sebagai Kunci Nilai Tambah
Menurutnya, kedelai tidak boleh berhenti sebagai komoditas bahan mentah. Melalui hilirisasi, kedelai dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti tempe higienis, susu kedelai, minyak kedelai, hingga pakan ternak berkualitas. Strategi ini akan memperkuat ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Kedaulatan Pangan Dimulai dari Keberanian
Prof. Rokhmin menutup gagasannya dengan seruan agar pemerintah, petani, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat bersinergi memperkuat produksi pangan lokal. “Kedaulatan pangan hanya dapat terwujud apabila kita berani berpihak pada produk lokal. Kedelai Indonesia adalah aset strategis yang harus dioptimalkan,” pungkas Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) ini.

Komentar