Menanti Mesias dan Imam Mahdi, Perang Justru Dianggap Tanda Zaman?
ASKARA - Sulit untuk tidak merasa ganjil, di satu sisi, manusia menanti hadirnya sosok pembawa damai, Mesias dalam tradisi Yahudi, Imam Mahdi dalam keyakinan Syiah, namun di sisi lain, konflik justru terus dipelihara, bahkan dianggap bagian dari "tanda zaman."
Di Israel, perang dan ketegangan belum juga menemukan ujung. Sementara di Iran, keyakinan akan kemunculan Imam Mahdi tetap hidup dan bahkan menjadi bagian dari narasi besar tentang keadilan di akhir zaman. Di sisi lain, dalam nubuat Kitab Yesaya, dunia damai tanpa perang justru menjadi ciri utama era Mesias.
Pertanyaannya, jika damai adalah tujuan akhir, mengapa jalan yang ditempuh justru terus mengarah pada konflik?
Ada kecenderungan berbahaya ketika perang tidak lagi sekadar dilihat sebagai tragedi, tetapi sebagai sesuatu yang "dimaklumi" karena dianggap bagian dari skenario ilahi. Dalam logika ini, kekacauan bukan lagi sesuatu yang harus dihentikan, melainkan sesuatu yang ditunggu, bahkan, secara ekstrem, bisa saja dianggap perlu.
Di sinilah iman diuji oleh realitas.
Menunggu penyelamat seharusnya tidak membuat manusia pasif, apalagi permisif terhadap kekerasan. Jika Mesias dalam tradisi Yahudi diyakini sebagai keturunan Raja Daud yang membawa kedamaian, dan Imam Mahdi dipercaya hadir untuk mengakhiri kezaliman, maka semangat yang seharusnya hidup adalah mengurangi kezaliman itu sendiri, bukan membiarkannya terus membesar.
Opini ini sederhana:
perdamaian tidak akan pernah lahir dari cara berpikir yang membenarkan konflik.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak alasan untuk berperang, bahkan jika alasan itu dibungkus dengan narasi keagamaan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memutus siklus kekerasan, sebuah langkah yang mungkin tidak spektakuler, tetapi justru paling mendekati semangat yang dijanjikan dalam nubuat-nubuat itu sendiri.
Maka, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi kapan Mesias atau Imam Mahdi akan datang.
Melainkan, apakah manusia berhenti menjadikan perang sebagai kebiasaan, atau terus merawatnya sambil berharap diselamatkan.

Komentar