Teror ke PWI Babel, Jangan Biarkan Adu Domba Menggerogoti Negara
ASKARA - Perusakan kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Bangka Belitung bukan sekadar kriminalitas biasa. Pola kerusakan, pesan tertulis, hingga simbol-simbol yang ditinggalkan pelaku menunjukkan adanya dimensi intimidasi, bahkan bisa mengarah pada upaya adu domba.
Di Pangkalpinang, kantor PWI Babel dirusak, barang hilang, fasilitas dihancurkan, dan muncul tulisan provokatif seperti “YO BEGASAK” serta “Bencong by Salam BIN”. Dua pesan ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Ada potensi framing yang sengaja dibangun.
Analisa: Narasi Adu Domba?
Tulisan “Bencong by Salam BIN” membuka ruang tafsir serius. Bisa jadi ini bukan sekadar vandalisme, melainkan upaya membangun persepsi bahwa ada keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN). Jika ini rekayasa, maka tujuannya jelas: membenturkan wartawan dengan institusi intelijen.
Dalam konteks yang lebih luas, skenario seperti ini berbahaya. Pers dan intelijen adalah dua elemen penting negara dengan fungsi berbeda, namun sama-sama strategis. Jika keduanya dipertentangkan, yang melemah bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga stabilitas nasional.
Apakah ini upaya melemahkan institusi intelijen? Atau justru memancing konflik horizontal antara pers dan aparat negara? Semua kemungkinan harus dibuka secara objektif, tanpa tergesa menarik kesimpulan.
Jangan Terjebak Provokasi
Yang paling penting saat ini adalah kewaspadaan. Insan pers tidak boleh terpancing. Begitu pula publik, harus cermat membaca situasi agar tidak terseret dalam narasi yang belum tentu benar.
Aparat penegak hukum harus mengusut tuntas, tidak hanya pelaku lapangan, tetapi juga motif dan kemungkinan aktor intelektual di baliknya. Jika benar ada upaya framing, maka ini bukan lagi kriminal biasa, melainkan operasi psikologis yang mengancam kohesi sosial.
Negara Tidak Boleh Kalah
Kasus ini menjadi ujian bagi negara. Kebebasan pers harus dijaga, namun di saat yang sama, integritas institusi seperti Badan Intelijen Negara juga tidak boleh dikorbankan oleh permainan pihak tak bertanggung jawab.
Jika benar ada pihak yang mencoba memperkeruh keadaan dengan menyisipkan nama institusi negara, maka itu adalah bentuk sabotase kepercayaan publik.
Peristiwa ini harus menjadi alarm: bahwa ancaman terhadap demokrasi hari ini tidak selalu datang secara terang-terangan, tetapi bisa melalui simbol, tulisan, dan narasi yang sengaja ditanamkan.
Dan satu hal yang pasti, Indonesia tidak boleh terpecah hanya karena provokasi.

Komentar