Kamis, 04 Juni 2026 | 10:47
Editorial

Amerika Sok Menang Duluan, Padahal Iran Baru Pemanasan

Amerika Sok Menang Duluan, Padahal Iran Baru Pemanasan
Ilustrasi perang Iran - Israel (Dok Gemini)

ASKARA - Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mungkin telah menghasilkan efek kejut militer, melumpuhkan sebagian fasilitas, mengganggu sistem peluncuran rudal dan drone, serta menunjukkan superioritas teknologi. Namun, menyimpulkan bahwa Teheran telah "dilumpuhkan" sepenuhnya adalah kesalahan analisis yang berbahaya.

Sejarah perang modern berulang kali mengajarkan, menghancurkan kemampuan teknis tidak sama dengan mematahkan daya tahan strategis.

Iran bukan sekadar target militer. Ia adalah entitas geopolitik dengan karakter unik, baik dari sisi geografi, doktrin perang, maupun kesabaran strategis. Wilayahnya yang luas, bergunung, dan kompleks membuat operasi militer konvensional tidak pernah sederhana. Bahkan dengan dominasi udara, menguasai Iran secara penuh nyaris mustahil tanpa biaya yang sangat mahal, baik secara militer maupun politik.

Lebih jauh, narasi "pelumpuhan" mengabaikan fakta bahwa Iran tidak pernah bermain dalam logika perang jangka pendek. Doktrin militernya justru bertumpu pada daya tahan, bukan kecepatan. Dalam konteks ini, kehilangan sebagian kemampuan peluncuran bukanlah akhir, melainkan fase adaptasi. Iran dikenal memiliki stok rudal dan drone yang tersebar, tersembunyi, dan dirancang untuk bertahan dari serangan awal.

Yang lebih mengkhawatirkan, Teheran tampaknya belum mengerahkan seluruh kapasitasnya. Serangan yang dilakukan selama ini cenderung selektif, mengarah pada target strategis tertentu, bukan eskalasi total. Ini menunjukkan adanya kalkulasi dingin, menahan diri bukan karena lemah, tetapi karena memilih waktu dan sasaran dengan presisi politik.

Faktor lain yang sering diabaikan adalah posisi Iran saat ini yang masih bertempur relatif sendiri. Hingga kini, Teheran belum secara terbuka meminta dukungan penuh dari kekuatan besar seperti Rusia, Korea Utara, atau Tiongkok. Jika dinamika ini berubah, maka konflik berpotensi melonjak dari perang regional menjadi krisis global yang jauh lebih kompleks dan sulit dikendalikan.

Di titik inilah klaim kemenangan menjadi problematik. Ia bukan hanya prematur, tetapi juga berisiko menciptakan rasa percaya diri berlebihan yang justru memicu eskalasi lanjutan. Dalam perang asimetris seperti ini, pihak yang tampak "tertekan" sering kali justru menyimpan kejutan paling berbahaya.

Kawasan Timur Tengah kembali berdiri di atas bara. Yang terlihat di permukaan hanyalah serpihan dari konflik yang lebih dalam, tentang pengaruh, ideologi, dan keseimbangan kekuatan global. Dan selama akar konflik itu belum disentuh, setiap "kemenangan" hanyalah jeda sebelum babak berikutnya dimulai.

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan siapa yang menang hari ini, melainkan: siapa yang mampu bertahan paling lama, dan dengan harga apa.

 

 

Komentar