Prof. Rokhmin Dahuri: Ramadhan Momentum Tingkatkan Kesalehan Sosial, Bukan Sekadar Ibadah Ritual
ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan bahwa Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan peningkatan kesalehan pribadi melalui ibadah ritual, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat kesalehan sosial yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Rektor Universitas UMMI Bogor ini menyampaikan bahwa kesalehan dalam Islam bersifat holistik. “Kesalehan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah), tetapi juga mencakup hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas) serta dengan alam (hablum minal ‘alam),” ujarnya, Ahad (15/3)
Menurut Dewan Pembina Baitul Muslimin Indonesia ini, masih banyak umat Islam yang memahami kesalehan secara sempit, sebatas ibadah ritual kepada Allah. Padahal, seseorang yang rajin beribadah namun memiliki relasi sosial yang buruk atau bahkan merusak lingkungan, patut dipertanyakan tingkat kesalehannya.
“Hal tersebut sejalan dengan misi Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia,” tambahnya.
Prof. Rokhmin menekankan bahwa kesalehan sosial yang paling relevan bagi kondisi bangsa saat ini adalah upaya menciptakan lapangan kerja.
Di tengah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan bertambahnya jumlah pengangguran, ia menilai bahwa kontribusi nyata umat Islam harus diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan ekonomi.
Selain itu, sikap berbagi kepada sesama, terutama di tengah tingginya angka kemiskinan, juga menjadi wujud nyata kesalehan sosial.
Dalam konteks Ramadhan, ia mengingatkan pentingnya meningkatkan iman dan ketakwaan melalui ibadah yang khusyuk seperti shalat, puasa, serta menunaikan zakat.
"Pentingnya membaca serta memahami Al-Qur’an dan hadis, tidak sekadar membacanya, tetapi juga memaknai kandungannya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan," tegasnya.
Ia menekankan bahwa membaca Al-Qur’an dan hadis tidak cukup dilakukan secara ritual, tetapi harus disertai dengan pemahaman mendalam agar kandungannya dapat menjadi pedoman hidup.
Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu menutup pesannya dengan ajakan agar umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum transformasi.
“Ramadhan harus menjadi bulan yang melahirkan pribadi yang lebih bertakwa, sekaligus masyarakat yang lebih peduli, berbagi, dan berkontribusi nyata bagi bangsa,” tutupnya.

Komentar