Dwi Versi Indrajit
ASKARA - Ternyata bukan hanya tokoh-tokoh Mahabharata seperti Srikandi dan Gatotkaca yang memiliki perbedaan versi antara naskah India dan pewayangan Jawa. Dalam kisah Ramayana pun hal serupa terjadi. Salah satu contoh paling menarik adalah sosok Indrajit.
Dalam Ramayana versi Walmiki, yang bahkan berbeda pula dengan tradisi Rahwanayana di Sri Lanka, Indrajit adalah putra kandung Rahwana, Raja Alengka. Saat lahir, ia diberi nama Megananda. Nama itu muncul karena tangisan pertamanya diiringi suara petir menggelegar, pertanda bahwa kelak ia akan tumbuh menjadi kesatria besar.
Ketika dewasa, Megananda membantu Rahwana berperang melawan para dewa kahyangan. Dalam pertempuran itu, ia berhasil menangkap dan menawan Indra, raja para dewa. Dewa Brahma kemudian turun melerai. Megananda pun membebaskan Indra. Sebagai gantinya, Brahma menghadiahkan pusaka sakti bernama Brahmasta. Brahma juga memberinya gelar Indrajit yang berarti “Penakluk Indra”.
Perang besar Alengka kemudian berkobar setelah Rahwana menculik Sinta, istri Rama. Rama yang didukung laskar Wanara menyerbu istana Alengka. Satu per satu panglima Alengka gugur, hingga Indrajit tampil sebagai andalan terakhir Rahwana.
Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa yang memunculkan ribuan ular berbisa. Rama dan Laksmana roboh tak berdaya, tubuh mereka dililit ular-ular tersebut. Saat para Wanara berduka karena mengira pemimpin mereka telah kalah, Garuda tiba-tiba muncul dan mengusir ular-ular itu. Rama dan Laksmana pun kembali bangkit, membuat pertempuran berlanjut.
Namun korban di pihak Alengka semakin banyak. Pada akhirnya Indrajit melepaskan pusaka Brahmasta yang mengenai Laksmana hingga ia roboh sekarat. Laksmana dapat diselamatkan setelah diobati Rama menggunakan tanaman jamu yang dibawa Hanuman.
Pertempuran belum selesai. Indrajit kemudian menciptakan Sinta palsu dan membunuhnya di hadapan pasukan Wanara. Melihat “Sinta” tewas, para Wanara kehilangan semangat karena menganggap tujuan perang sudah tak ada lagi.
Wibisana menyadari bahwa Indrajit sedang melakukan semedi untuk memperoleh kekuatan tertinggi. Ia meminta Laksmana menggagalkan semedi itu sebelum mencapai kesempurnaan. Laksmana pun berangkat bersama prajurit Wanara ke tempat Indrajit bertapa. Semedinya terganggu dan terhenti. Terjadilah duel terakhir. Laksmana melepaskan panah Indrastra dengan mengucapkan doa atas nama Rama. Panah itu melesat dan memenggal kepala Indrajit.
Berbeda jauh dengan versi India, pewayangan Jawa, melalui kreativitas swasemabda para dalang, menyajikan Indrajit dengan asal-usul yang sama sekali lain. Dalam versi ini, Indrajit bukan putra kandung Rahwana, melainkan hasil ciptaan Wibisana.
Alkisah, istri Rahwana bernama Dewi Kanung sedang mengandung bayi perempuan, reinkarnasi bidadari bernama Widawati. Rahwana bersumpah akan menikahi anak itu jika kelak lahir, sebab Widawati adalah cinta pertamanya.
Saat Kanung melahirkan, Wibisana segera menyelamatkan bayi tersebut. Ia menyuliknya lalu menghanyutkannya ke sungai dalam sebuah peti. Bayi itu terbawa arus hingga sampai ke Kerajaan Mantili. Di sana ia ditemukan oleh Raja Janaka, lalu diangkat sebagai anak dengan nama Sinta.
Sementara itu, Wibisana menciptakan bayi laki-laki dari segumpal awan. Bayi itu diberi nama Indrajit dan diserahkan kepada Rahwana. Rahwana kecewa karena mengira anak yang lahir bukan seperti yang ia harapkan, bahkan sempat berniat membunuh Indrajit. Namun anehnya, semakin dihajar, Indrajit justru semakin tumbuh gagah dan perkasa. Rahwana pun berubah pikiran dan mengakuinya sebagai anak.
Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa hingga muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara. Namun semuanya dapat ditaklukkan oleh burung Garuda ciptaan Laksmana.
Indrajit lalu mengerahkan ilmu Sirep Begananda, membuat Rama, Laksmana, dan seluruh pengikut mereka roboh tak berdaya. Mereka tertidur seperti orang mati. Hanya Wibisana yang tetap terjaga.
Pada titik itulah Wibisana membuka rahasia asal-usul Indrajit. Indrajit tersadar bahwa ia telah bersalah karena membela Rahwana. Ia pun meminta Wibisana mengembalikannya ke asal-muasalnya.
Indrajit kemudian mengheningkan cipta. Wibisana melepaskan pusaka Dipasanjata ke arahnya. Tubuh Indrajit musnah seketika dan kembali menjadi awan putih di angkasa.
Menurut pendapat saya, kisah Indrajit versi pewayangan Jawa terasa lebih indah dan lebih menyentuh dibanding versi Ramayana gubahan Walmiki, karena menghadirkan unsur penyesalan, kesadaran diri, dan kepulangan batin yang tragis namun puitis.

Komentar