Rabu, 17 Juni 2026 | 16:39
OPINI

Tak Akan Putus Air Dicincang

Tak Akan Putus Air Dicincang
Ilustrasi Tak Akan Putus Air Dicincang (Dok Askara)

Oleh: Prof. Ismunandar, Ph.D

ASKARA - "Peribahasa 'air dicincang tidak akan putus' sangat tepat menggambarkan hubungan Indonesia-Malaysia. Bukan sekadar jiran berjiran, tetapi dua negara yang terikat tali persaudaraan serumpun. Makna 'Melayu' sendiri sangat luas: Jawa itu Melayu, Bugis itu Melayu, Banjar juga disebut Melayu, Minangkabau itu Melayu, keturunan Aceh adalah Melayu, bahkan Jakun dan Sakai juga Melayu. Arab, Pakistan, Mamak, Malbari, bahkan mualaf semua dikategorikan sebagai Melayu. Seperti yang diungkap Usman Awang dalam sajaknya, ikatan ini telah mengakar kuat."

Demikian petikan pengantar presentasi Profesor Noriah Mohamed, guru besar purnabakti Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang juga alumnus Program Sarjana Universitas Gadjah Mada. Beliau menyampaikan pandangannya tepat setelah paparan kunci saya dalam sesi "Rumpun Nusantara: Berkongsi Warisan, Seni dan Budaya" di Seminar 70 Tahun Persatuan Alumni Pendidikan Tinggi Indonesia (PAPTI)—organisasi yang mewadahi warga Malaysia yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Indonesia.

Di forum itu, saya menyampaikan pengalaman ketika terlibat dalam diskusi-diskusi di UNESCO. Bahwa selama ini, upaya mengedukasi publik Indonesia melalui media cetak, televisi, podcast, dan berbagai forum seminar terus saya lakukan untuk menegaskan satu hal: berkelahi secara budaya dengan Malaysia tidaklah produktif, khususnya dalam konteks pengusulan Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO. Semangat Dasar Konvensi UNESCO adalah kolaborasi, bukan kompetisi. Selain itu, kriteria utama inskripsi bukanlah asal-usul budaya, melainkan siapa yang masih mempraktikkan dan memiliki semangat untuk melestarikannya. Budaya tidak pernah berpaspor.

Prof Noriah pun kemudian memaparkan presentasinya yang kaya akan ingatan sejarah dan rasa persaudaraan. Saya merangkumnya sebagai berikut. Hubungan diplomatik Malaysia-Indonesia telah terjalin puluhan tahun, diperkuat kedekatan geografis dan sempadan yang sama. Gelombang migrasi penduduk Nusantara (kini wilayah Indonesia) ke bagian yang kini wilayah Malaysia, Singapura, dan Brunei bahkan telah membentuk populasi utama negara-negara ini. Hubungan serumpun ini terus bertahan, meski ada kalanya hubungan meruncing. Namun, menurut studi Prof Noriah, rakyat Malaysia keturunan Jawa ketika itu teguh memegang prinsip: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Fokus bahasan Prof Noriah adalah kedatangan etnik Jawa ke Johor. Hijrahnya orang Jawa ke Tanah Melayu abad ke-19–20 merupakan lanjutan tradisi merantau, atau dalam istilah mereka, boyong (pindah). Dua faktor utama mendorong migrasi, penolak dan penarik. Faktor penolak dari Tanah Jawa—politik tanam paksa Belanda, beban cukai, kepadatan penduduk. Faktor penarik dari Johor—peluang pekerjaan melalui pembukaan tanah pertanian baru dalam sistem syeikh, terutama di Pontian dan Kukup.

Orang Jawa terkenal tekun dan setia. Mereka membawa nilai luhur emban rasa (menjaga perasaan), guyub (rukun), rewang (gotong royong). Kuliner seperti soto, tempe, sambal goreng, lontong, ungkep, rempeyek masih terus mereka lestarikan. Kesenian seperti kuda kepang, wayang purwa, barongan, reyog masih bernafas di kalangan mereka. Namun kesenian ini tidak dianggap sebagai penjajahan budaya, karena masyarakat Jawa sendiri berasal dari rumpun Melayu seagama dan sebangsa.

Ketika insiden pelabelan "Malingsia" terjadi dan merentap hati masyarakat keturunan Indonesia di Malaysia, mereka tidak merasa mencuri. Mereka hanya merasa terpanggil meneruskan warisan leluhur. Saya menyampaikan juga ke Prof Noriah, orang Indonesia pun tersinggung kalau disebut Indon oleh rekan Malaysia. Beliau nampak heran, kan Indon singkatan saja dari Indonesia. Tidak Bu, nilai rasanya hinaan .

Memang kita saling memerlukan, kita juga berbagi sejarah, berbagi budaya. Di tengah arus keras homogenisasi budaya, lebih produktif, kalau kita saling menghargai, dan dalam budaya pun baiknya kita bekerjasama. Apalagi yang jelas-jelas budaya yang sama.

 

 

Komentar