Kamis, 18 Juni 2026 | 00:58
NEWS

Siap-siap! BMKG Sebut Hujan Ekstrem Masih Mengancam

Siap-siap! BMKG Sebut Hujan Ekstrem Masih Mengancam
Ilustrasi hujan lebat (Dok Freepik)

ASKARA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi hujan berintensitas tinggi menjelang mudik dan arus balik Idul Fitri 1447 H/2026. Pasalnya, Indonesia masih berada dalam fase puncak musim hujan, terutama pada periode Januari hingga Februari.

Peringatan itu disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat memaparkan update kondisi cuaca dan iklim pada periode Hari Raya dan libur Lebaran dalam Rapat Tingkat Menteri di Jakarta, Rabu (12/2/2026).

“Yang pertama perlu kami sampaikan bahwa saat ini kita masih berada di puncak musim hujan pada Januari–Februari, kemudian akan melandai. Namun hujan dengan intensitas tinggi ini masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia,” ujarnya.

BMKG memprediksi pada Februari 2026 curah hujan umumnya berada pada kategori rendah hingga tinggi. Adapun peluang curah hujan sangat tinggi diperkirakan terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan.

Sementara pada Maret 2026, hujan diprediksi berada pada kategori menengah hingga tinggi, dengan potensi hujan sangat tinggi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.

BMKG juga menyebut sejumlah fenomena atmosfer masih aktif selama periode Idul Fitri, antara lain Monsun Asia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta potensi munculnya bibit siklon atau siklon tropis, terutama di wilayah selatan Indonesia.

BMKG mengingatkan potensi peningkatan intensitas hujan pada minggu ke-4 Februari hingga minggu ke-2 Maret 2026. Sedangkan untuk periode 1–31 Maret 2026, kondisi cuaca diperkirakan didominasi berawan hingga hujan sedang.

Pada 1–10 Maret, hujan ringan hingga sedang masih dominan dengan peluang hujan lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Papua Tengah, dan Papua. Kondisi serupa diperkirakan berlanjut pada 11–20 Maret hingga 21–30 Maret 2026.

Selain curah hujan, BMKG juga menyoroti potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) pada Maret 2026 yang perlu diwaspadai di wilayah Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara. Dampaknya dapat memicu turbulensi, petir, serta gangguan cuaca di area bandara.

BMKG juga mengingatkan adanya potensi banjir rob pada Maret 2026 akibat kombinasi fase Bulan Baru pada 19 Maret dan Perigee pada 22 Maret yang dapat meningkatkan ketinggian pasang air laut. Wilayah pesisir diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan genangan.

Untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026, BMKG menyediakan berbagai platform informasi cuaca, seperti Digital Weather for Traffic (DWT), Ina-SIAM, InaWIS, website dan aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, hingga Dynamic Message Sign (DMS) di jalan tol.

Di sisi operasional, BMKG menyiapkan posko pemantauan di tingkat pusat dan daerah. Posko pusat berada di Kantor BMKG dan terintegrasi dengan posko Kementerian Perhubungan. Di daerah, terdapat 38 UPT BMKG di setiap provinsi, posko gabungan di 13 pelabuhan, serta 96 bandara.

BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional untuk mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah yang berisiko mengalami hujan ekstrem.

BMKG menilai secara umum kondisi cuaca pada periode Hari Raya dan libur Idul Fitri 2026 relatif kondusif dan tidak berpotensi menimbulkan gangguan berskala besar terhadap transportasi. Meski demikian, potensi hujan di sejumlah wilayah tetap diminta untuk diantisipasi.

BMKG mengimbau masyarakat agar terus memperbarui informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG, termasuk bmkg.go.id dan Call Center 196, demi keselamatan perjalanan selama masa mudik dan arus balik Lebaran 2026.

 

 

Komentar