Diam-Diam Tomy Winata Datangi Gunung Padang
Dorong Kepedulian Bersama Jaga Warisan Bangsa
ASKARA - Ada masa ketika bangsa ini begitu sibuk mengejar masa depan, sampai lupa menengok tanah yang dipijaknya. Kita berlomba membangun jalan, gedung, dan teknologi, tetapi sering abai pada satu hal yang lebih mendasar: akar peradaban yang membuat Indonesia layak disebut bangsa besar.
Situs Megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, adalah salah satu pengingat paling kuat tentang itu. Ia bukan sekadar tumpukan batu purba. Ia adalah penanda bahwa Nusantara pernah memiliki peradaban yang serius, tertata, dan tak bisa diremehkan.
Belum lama ini, pengusaha nasional Tomy Winata datang meninjau langsung Gunung Padang. Kehadirannya dibenarkan Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana.
Kunjungan itu mungkin tampak sederhana. Tetapi pada titik tertentu, ia menyimpan makna yang lebih luas. Ia dapat dibaca sebagai sinyal kepedulian terhadap warisan budaya, bahwa Gunung Padang bukan hanya urusan arkeolog, akademisi, atau pemerintah. Ia adalah urusan bangsa. Sebab warisan budaya bukan pajangan. Ia adalah identitas.
Gunung Padang adalah semacam cermin. Ia memantulkan pertanyaan yang sering kita hindari: apakah kita benar-benar mencintai Indonesia? Apakah kita benar-benar menghormati sejarah, atau hanya menggunakannya sebagai dekorasi pidato?
Di banyak negara besar, situs-situs peradaban tua dijaga seperti menjaga kehormatan. Karena mereka paham, bangsa yang kehilangan memori akan mudah kehilangan arah. Tetapi di negeri ini, warisan sejarah sering dibiarkan rapuh, seolah ia tidak penting, seolah ia tidak terkait dengan masa depan.
Padahal, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang memiliki ekonomi, militer, dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki rasa percaya diri terhadap akar budayanya. Dan rasa percaya diri itu tidak bisa dibangun dari slogan, melainkan dari kesadaran bahwa tanah ini pernah melahirkan kebesaran.
Gunung Padang menyimpan misteri. Tetapi bahkan tanpa menuntaskan semua misterinya, ia sudah cukup memberi pesan: Indonesia bukan bangsa kemarin sore. Kita adalah bangsa tua yang hidup di tanah tua. Kita punya sejarah panjang yang seharusnya membuat kita berdiri lebih tegak, bukan malah minder.
Karena itu, menjaga Gunung Padang bukan hanya soal konservasi. Ini soal harga diri. Soal apakah kita ingin dikenal sebagai bangsa yang besar, atau bangsa yang hanya sibuk berdebat, lalu lupa menjaga peninggalan yang nyata.
Pada akhirnya, Gunung Padang mengingatkan kita bahwa modernitas yang tidak berakar hanya akan melahirkan generasi yang cepat, tetapi rapuh. Dan Indonesia yang kehilangan jejak sejarahnya, pada dasarnya sedang menggali lubang untuk kehilangan identitasnya sendiri.

Komentar