Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, Kembali ke Rumah Persaudaraan
Di Teras Biara, Air Mata Syukur Mengalir Tanpa Banyak Kata
ASKARA - Ada momen-momen yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kedalaman rohani yang sulit diukur dengan kata. Sabtu, 7 Februari 2026, di Provinsialat OFM Indonesia, Jakarta, seorang Uskup Fransiskan, Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, kembali ke rumah Persaudaraan. Ia datang bukan sebagai tokoh besar yang disambut karena jabatan, melainkan sebagai saudara yang pulang, dan di sanalah letak keindahan iman.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang dihormati karena posisi. Tetapi dalam spiritualitas Fransiskan, posisi justru dilipat menjadi kerendahan hati. Seorang Uskup, bahkan seorang Kardinal, tetaplah seorang saudara. Ia tetap seorang peziarah yang membutuhkan rumah, doa, dan pelukan persaudaraan. Hari itu, teras biara menjadi seperti perumpamaan Injil, tempat di mana orang yang pulang tidak diadili, melainkan diterima.
Penyambutan dengan torok/kepok curu, tuak kapu, peci dan selendang Manggarai bukan sekadar tradisi. Itu adalah bahasa kasih. Itu adalah cara budaya berkata, "Engkau milik kami. Engkau tidak sendiri." Iman memang seringkali menemukan jalannya lewat hal-hal yang manusiawi, senyum, pelukan, sapaan, dan ritus yang mengikat hati.
Yang paling menyentuh dari peristiwa ini adalah satu kalimat yang diucapkan dalam homili, bila ditanya siapa tokoh sentral dalam acara itu, Mgr. Paskalis akan menjawab, "Tuhan." Di situlah iman diuji dan dimurnikan. Banyak orang merasa menjadi pusat ketika disambut. Tetapi orang yang hidupnya dituntun Tuhan justru semakin sadar, bukan dirinya yang hebat, melainkan Tuhan yang setia.
Moto episkopalnya, Magnificat Anima Mea Dominum, "Jiwaku memuliakan Tuhan" adalah pengakuan yang lahir dari pengalaman. Hidup tidak selalu mulus. Panggilan tidak selalu mudah. Pelayanan tidak selalu dipahami. Tetapi di balik semua itu, ada tangan Tuhan yang "merajut," pelan-pelan, tanpa gaduh, tanpa perlu diumumkan.
Kita sering ingin hidup yang pasti, rencana yang jelas, jalan yang lurus, masa depan yang bisa diprediksi. Namun iman jarang berjalan seperti itu. Iman lebih sering seperti benang yang dirajut, satu simpul, satu tarikan, satu pola yang baru terlihat setelah waktu berlalu. Dan kadang, kejutan-kejutan hidup, penunjukan, penugasan, tanggung jawab, bukanlah hasil keinginan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang membentuk seseorang untuk melayani lebih luas.
Mgr. Paskalis berkata, ia tidak merasa sendirian. Ini kalimat yang sederhana, tetapi sangat teologis. Karena iman bukan hanya soal percaya bahwa Tuhan ada. Iman adalah mengalami bahwa Tuhan menyertai. Ketika lelah, Tuhan menyertai. Ketika disalahpahami, Tuhan menyertai. Ketika jalan terasa berat, Tuhan menyertai. Dan ketika pulang, Tuhan menyertai lewat persaudaraan.
Peristiwa ini juga mengingatkan kita: rumah rohani adalah anugerah. Tidak semua orang punya tempat untuk pulang. Tidak semua orang punya komunitas yang menerima. Tetapi persaudaraan, ketika dijalani dalam roh Injil, menjadi wajah nyata dari belas kasih Tuhan. Di sana, orang tidak ditanya "apa jabatannya," melainkan "apa kabarnya." Tidak dinilai dari "prestasinya," tetapi disambut karena "ia saudara."
Dan mungkin, inilah pesan terdalamnya, semakin tinggi seseorang dipanggil, semakin ia harus tahu caranya kembali. Kembali kepada doa. Kembali kepada kesederhanaan. Kembali kepada persaudaraan. Kembali kepada Tuhan sebagai pusat. Sebab jabatan bisa selesai, tepuk tangan bisa reda, tetapi persaudaraan dan kasih Tuhan adalah rumah yang tidak pernah tutup pintu.
Di hari ulang tahun imamatnya yang ke-35, kepulangan ini terasa seperti peneguhan, bahwa pelayanan bukan tentang menjadi besar, melainkan tentang tetap setia. Dan kesetiaan itu bukan dibuktikan lewat kata-kata, tetapi lewat hidup yang terus berkata seperti Magnificat, "Tuhan, Engkaulah yang bekerja. Engkaulah yang memuliakan. Engkaulah yang merajut."
Kiranya peristiwa ini menjadi cermin bagi kita semua, di tengah hidup yang sering membuat kita merasa sendiri, Tuhan selalu menyediakan jalan pulang. Kadang lewat keluarga, kadang lewat sahabat, kadang lewat komunitas iman. Dan ketika kita pulang, kita diingatkan kembali: kita ini bukan pusat. Kita hanya anak-anak Tuhan yang diselamatkan oleh kasih, dan ditopang oleh persaudaraan.
Amin.

Komentar