Rabu, 22 Juli 2026 | 04:25
Editorial

Surat Terakhir Bocah Kecil Ngada, Kemiskinan Renggut Masa Depannya

Surat Terakhir Bocah Kecil Ngada, Kemiskinan Renggut Masa Depannya
Kemiskinan di sebuah desa (Dok Askara)

ASKARA - Ada kabar duka yang tak cukup dibaca dengan logika. Ia hanya bisa diterima dengan hati yang tertunduk. Seorang bocah 10 tahun di Ngada pergi dengan cara yang terlalu sunyi, terlalu dewasa untuk usianya, dan terlalu kejam bagi nurani kita semua.

YBS tidak meninggal karena perang, bukan pula karena bencana alam. Ia pergi setelah menulis surat perpisahan, dalam bahasa ibunya sendiri. Bahasa yang seharusnya dipakai untuk meminta dipeluk, bukan untuk pamit selamanya. Kalimatnya sederhana, tapi menghantam: “Mama relakan saya pergi. Jangan menangis.”
Anak sekecil itu, sudah belajar menenangkan orang lain, padahal dirinya sendiri sedang hancur.

Kita sering bicara tentang masa depan anak-anak, bonus demografi, dan generasi emas. Tapi di sudut kebun cengkih di Ngada, masa depan itu menggantung, secara harfiah dan batiniah. Tiga meter dari pondok tempat ia berteduh bersama nenek renta berusia 80 tahun, seorang anak memilih menyerah pada hidup yang belum sempat ia jalani.

YBS bukan anak nakal. Ia bukan pembangkang. Ia hanya anak miskin. Anak yatim sejak dalam kandungan. Anak yang pagi itu cuma meminta buku dan pena, alat paling dasar untuk bermimpi. Dan ketika permintaan itu tak bisa dipenuhi, bukan marah yang ia pilih, melainkan diam. Diam yang terlalu dalam, terlalu sunyi, dan akhirnya mematikan.

Di sinilah negara, masyarakat, dan kita semua harus berkaca. Kemiskinan bukan sekadar soal angka statistik. Ia bisa menjelma jadi rasa malu, rasa tidak layak, rasa menjadi beban. Pada orang dewasa, itu berat. Pada anak 10 tahun, itu menghancurkan.

Lebih menyakitkan lagi, tragedi ini nyaris tak bersuara sebelum terjadi. Tak ada sirene bahaya, tak ada sistem yang mendeteksi keputusasaan anak-anak di pelosok. Tidak ada jaring pengaman sosial yang benar-benar menjangkau mereka yang paling rapuh.

Editorial ini bukan untuk mencari kambing hitam. Ibu YBS bukan pelaku. Neneknya bukan lalai. Mereka adalah korban dari kemiskinan struktural yang terlalu lama kita biarkan, sambil sibuk berdebat di ruang-ruang nyaman.

Seorang anak telah pergi, membawa serta pertanyaan yang tak boleh kita abaikan:
Berapa banyak YBS lain yang sedang menulis surat di kepalanya, tanpa kita sadari?

Jika kematian bocah ini hanya menjadi berita sehari lalu dilupakan, maka sesungguhnya yang mati bukan hanya YBS. Yang mati adalah empati kita sebagai bangsa.

Dan mungkin, itu yang paling menakutkan.

 

 

Komentar