Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:46
NEWS

Kenapa Gunung Padang Hasilkan Fenomena Elektromagnetik?

Kenapa Gunung Padang Hasilkan Fenomena Elektromagnetik?
Ilustrasi energi Gunung Padang (Dok Sutejo)

ASKARA - Peneliti dan pemerhati kebumian Sutejo Setyo Pujowati mengungkapkan bahwa Sesar Cimandiri merupakan salah satu jalur sesar tertua di Jawa Barat, bahkan dinilai lebih tua dibandingkan Sesar Lembang. Jalur ini membentang panjang dari kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, serta memiliki peran penting dalam dinamika energi tektonik Pulau Jawa.

Menurut Sutejo, Sesar Cimandiri tidak berhenti di daratan Pelabuhan Ratu, tetapi berlanjut masuk ke dalam lempeng bumi hingga bertemu dengan zona megathrust di Laut Selatan Jawa, tempat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Zona tersebut dikenal sebagai kawasan dengan tekanan tektonik tinggi yang berpotensi menghasilkan energi besar.

"Tekanan akibat tumbukan dua lempeng tersebut dapat memicu fenomena piezoelektrik, yakni munculnya energi listrik akibat tekanan pada material tertentu. Dalam konteks ini, Sesar Cimandiri dianalogikan sebagai 'kabel alami' yang mengalirkan energi dari zona megathrust menuju daratan Jawa Barat," jelas Sutejo, ditungkil dari laman media sosialnya, Senin (2/2).

Aliran energi tersebut, lanjut Sutejo, bergerak ke arah barat dan melewati kawasan Gunung Padang, Cianjur. Di lokasi ini, energi berlebih diduga diserap oleh batuan andesit dan material natural tectonic component (NTC) yang menyusun situs megalitik Gunung Padang. Kondisi tersebut diyakini memicu munculnya fenomena listrik dan elektromagnetik di kawasan tersebut.

Gunung Padang pun disebut tidak hanya sebagai situs budaya dan sejarah, melainkan juga berfungsi sebagai resonator alami yang menstabilkan atau menampung energi hasil tekanan megathrust yang dialirkan melalui jalur Sesar Cimandiri. Struktur batuan besar di kawasan tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan fenomena kebumian yang telah berlangsung ribuan tahun.

Sutejo juga menyoroti bahwa Sesar Cimandiri memiliki sejumlah percabangan yang kerap luput dari perhatian. Aktivitas sesar ini, menurutnya, dapat menjelaskan berbagai kejadian gempa di wilayah Jawa Barat, termasuk gempa Cianjur pada 2018, sebagai bagian dari proses pelepasan energi tektonik.

Dengan karakteristiknya yang panjang, tua, dan terhubung langsung dengan zona megathrust, Sesar Cimandiri dinilai perlu mendapatkan perhatian serius dalam kajian kebencanaan dan energi kebumian. Pemahaman yang lebih mendalam diharapkan mampu membuka perspektif baru mengenai hubungan antara struktur geologi, energi alam, dan keberadaan situs-situs purba di Jawa Barat.

 

 

Komentar