Misa di Teras Lima Gunung Padang, Doa di Tengah Ancaman?
ASKARA - Indonesia sedang berada pada fase getir relasi manusia dengan alamnya sendiri. Banjir bandang, longsor, kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, hingga krisis pangan bukan lagi rangkaian peristiwa terpisah, melainkan gejala dari bencana ekologis struktural, buah dari cara pandang pembangunan yang menempatkan alam semata sebagai objek eksploitasi.
Di tengah situasi itulah, doa lintas iman yang digelar di Teras 5 Gunung Padang beberapa waktu lalu, menjadi lebih dari sekadar ritus keagamaan. Ia menjelma sebagai tanda peringatan moral, sekaligus panggilan nurani bangsa.
Dipimpin oleh Romo Yos Bintoro, Pr, misa malam itu berlangsung dalam suasana hening dan sakral, di jantung peradaban purba Nusantara. Bukan di katedral megah, bukan pula di pusat kekuasaan, melainkan di situs megalitikum yang telah ribuan tahun menjadi saksi hubungan manusia dan semesta.
"Kami berada di tempat yang sangat khusus, bersama para penjaga situs dan sahabat lintas iman. Ini adalah doa Nusantara, doa untuk Indonesia dan juga doa pertobatan atas dosa ekologis manusia terhadap ciptaan Tuhan," ujar Romo Yos.
Pernyataan itu menohok kesadaran kolektif. Dosa ekologis bukan istilah puitik belaka, melainkan kenyataan konkret: hutan yang digunduli, gunung yang dilubangi, sungai yang diracun, laut yang dibebani limbah, dan kebijakan yang kerap lebih tunduk pada kepentingan ekonomi jangka pendek ketimbang keberlanjutan hidup.
Gunung Padang, dengan teras-teras batu purbanya, seolah mengingatkan bahwa leluhur Nusantara membangun peradaban dengan rasa hormat pada alam, bukan dengan menaklukkannya. Teras demi teras bukan hanya struktur fisik, tetapi simbol keseimbangan: naik perlahan, selaras, tidak memaksa.
Editorial ini melihat doa di Teras 5 sebagai kritik sunyi namun keras terhadap model pembangunan hari ini. Ketika alam rusak, bencana bukanlah murka Tuhan semata, melainkan cermin dari keserakahan dan kelalaian manusia.
Doa lintas iman di Gunung Padang juga mengandung pesan penting: krisis ekologis tidak bisa diselesaikan oleh satu agama, satu disiplin ilmu, atau satu lembaga kekuasaan. Ia menuntut pertobatan kolektif, perubahan cara berpikir, dan keberanian menata ulang relasi manusia dengan alam.
Negara tidak cukup hadir saat bencana terjadi, tetapi harus berani mencegahnya dengan kebijakan yang berpihak pada kelestarian. Dunia usaha tidak cukup berbicara CSR, tetapi wajib bertanggung jawab atas jejak ekologisnya. Masyarakat pun tidak bisa hanya berdoa tanpa mengubah perilaku.
Di Teras 5 Gunung Padang, doa menjadi suara alam yang dipinjamkan melalui iman manusia. Ia mengingatkan: jika bangsa ini terus mengabaikan etika ekologis, maka bencana akan menjadi bahasa terakhir bumi untuk menyapa kita.
Dan saat itu terjadi, mungkin doa-doa kita tak lagi cukup, karena yang dibutuhkan sejak awal adalah pertobatan, bukan penyesalan.

Komentar