Rabu, 17 Juni 2026 | 20:53
COMMUNITY

Baret ICMI Aceh Perkuat Tenaga Cadangan Kesehatan Tangani Krisis Bencana

Baret ICMI Aceh Perkuat Tenaga Cadangan Kesehatan Tangani Krisis Bencana
Zam Zam Mubarak (Kiri) Ketua DPW Baret ICMI Aceh, Kapuskris Kemenkes, Lili Erawati Ketua Umum DPP Baret ICMI (Dok Zam Zam)

ASKARA - Baret Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Aceh resmi bergabung sebagai Tenaga Cadangan Kesehatan Pusat Krisis Kesehatan (Puskris) Kementerian Kesehatan RI. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat penanganan krisis kesehatan akibat bencana di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah yang terdampak dan sulit dijangkau.

Ketua Badan Reaksi Cepat ICMI (Baret ICMI) Wilayah Aceh, Zam Zam Mubarak, mengatakan keterlibatan Baret ICMI Aceh merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang telah dijalankan secara mandiri dengan dukungan penuh Dewan Pimpinan Pusat Baret ICMI.

“Baret ICMI Aceh bergabung sebagai tenaga cadangan kesehatan Puskris Kemenkes RI untuk memperkuat formasi penanganan krisis kesehatan bencana di Aceh,” ujar Zam Zam Mubarak di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan, proses perekrutan Tenaga Cadangan Kesehatan Puskris Kemenkes RI di wilayah Aceh Tengah dikoordinasikan oleh Hardy Fauzi selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah Baret ICMI Aceh Tengah. Fokus utama penugasan diarahkan pada pelayanan kesehatan di Kabupaten Aceh Tengah yang masih mengalami keterisolasian pascabencana.

Menurut Zam Zam, sebelum bencana terjadi, Kabupaten Aceh Tengah telah menghadapi persoalan krisis layanan kesehatan akibat kelebihan kapasitas fasilitas medis. Kondisi tersebut memperparah situasi kemanusiaan setelah bencana melanda.

“Dengan bergabungnya Baret ICMI Aceh dalam sistem Puskris Kemenkes RI, diharapkan penanganan krisis kesehatan dapat dilakukan secara lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif,” katanya.

Zam Zam juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan bencana berskala besar. Ia menyebut penguatan koordinasi di tingkat nasional menjadi kunci dalam memastikan layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat terdampak.

“Seluruh pihak harus memperkuat kolaborasi. Saat ini kita bergerak dalam satu payung bendera kemanusiaan, sehingga koordinasi nasional sangat diperlukan,” tegasnya.

Selain itu, ia menilai penanganan layanan kesehatan bencana di Aceh Tengah harus dilakukan dengan pendekatan jemput bola. Hal ini mengingat keterbatasan akses masyarakat menuju fasilitas kesehatan, termasuk sejumlah puskesmas yang hingga kini masih terisolasi.

“Rakyat memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Karena itu, pelayanan harus proaktif mendatangi warga, bukan menunggu,” pungkas Zam Zam Mubarak.

 

 

Komentar