Rabu, 17 Juni 2026 | 18:42
Editorial

Misteri Hosti Habis di Gereja Santo Antonius Medan

Misteri Hosti Habis di Gereja Santo Antonius Medan
Pastor Paulinus Simbolon OFM.Cap ketika memimpin Perayaan Ekaristi dan cut paste hosti (Dok Askara)

ASKARA - Ada momen-momen dalam kehidupan beriman ketika manusia dipaksa berhenti mengandalkan hitungan, lalu memilih berserah. Peristiwa yang dialami umat Gereja Santo Antonius dari Padua, Jalan Hayam Wuruk, Medan, adalah salah satunya, sebuah pengalaman iman yang lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari kekosongan.

Dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paulinus Simbolon OFM.Cap, situasi tak terduga terjadi saat Komuni Kudus dibagikan. Hosti dinyatakan telah habis, sementara barisan umat masih panjang. Mereka berdiri, menunggu, dalam keheningan yang sarat kerinduan, kerinduan akan perjumpaan paling intim antara manusia dan Tuhan.

Secara manusiawi, ini adalah akhir. Liturgi tak mungkin dilanjutkan tanpa hosti. Semua prosedur telah dijalankan. Prodiakon dipanggil. Persediaan diperiksa. Namun jawabannya sama: piala kosong, susteran pun tak menyimpan tambahan.

Di hadapan kenyataan itu, kegelisahan bukan hanya milik imam, tetapi juga umat. Ekaristi bukan sekadar ritus, melainkan sumber kekuatan iman. Pulang tanpa Komuni berarti pulang dengan rasa kehilangan yang tak terucap.

Pastor Paulinus mengakui kegundahan itu. Ia membayangkan umat yang pulang membawa kekecewaan, meski datang dengan iman dan harapan. Namun justru di titik inilah iman diuji: apakah Tuhan hanya hadir ketika segalanya tersedia, atau justru ketika manusia mengakui keterbatasannya?

Alih-alih menghentikan Misa atau menutupnya dengan penjelasan rasional, Pastor memilih jalan yang jarang ditempuh di zaman serba terukur ini: penyerahan diri total. Dalam doa batinnya, ia berkata sederhana namun radikal, "Up to You, Lord. Terserah."

Penyerahan itu tidak dibiarkan hening. Umat diajak bernyanyi, melantunkan Madah Bakti Tuhan Yesus, Kau Hadir Kini. Lagu itu bukan sekadar pengisi waktu, melainkan pengakuan iman kolektif: bahwa Tuhan tetap hadir, bahkan ketika altar tampak kosong.

Dan di situlah misteri iman itu terjadi.

Saat Pastor kembali ke altar, piala-piala yang sebelumnya dinyatakan kosong disebut kembali terisi, bahkan melebihi kebutuhan. Komuni Kudus dapat dilanjutkan hingga umat terakhir menerima Tubuh Kristus. Tidak ada sorak, tidak ada euforia. Yang ada hanyalah keheningan haru, mata yang berkaca-kaca, dan syukur yang tak terucap.

Kesaksian umat menguatkan peristiwa itu bukan sebagai cerita, melainkan pengalaman nyata. Mariana Sinaga, salah satu umat, mengaku ikut berdiri menunggu hosti. "It’s real," tulisnya singkat, seolah kata-kata tak lagi mampu memuat perasaannya.

Diana Naibaho, umat Paroki Santo Antonius Padua, juga menegaskan kehadirannya dalam Misa tersebut. "Puji Tuhan," tulisnya, sebuah pengakuan iman yang sederhana, namun dalam.

Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin akan diperdebatkan, diverifikasi, bahkan dipertanyakan secara administratif dan teologis. Namun bagi umat yang hadir, ini adalah pengalaman iman yang hidup, pengingat bahwa Ekaristi bukan soal cukup atau tidaknya persediaan, melainkan soal kepercayaan yang diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Editorial ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi atau menutup ruang penelaahan Gereja. Sebaliknya, ia mengajak kita merenung: di zaman ketika iman sering kali disandera oleh logika dan prosedur, peristiwa di Santo Antonius Medan mengingatkan bahwa Tuhan bekerja bukan hanya melalui kelimpahan, tetapi juga melalui kekosongan yang diserahkan.

Ketika hosti habis, iman tidak pernah kosong. Dan ketika manusia berani berkata, "Terserah pada-Mu," di sanalah misteri kasih Tuhan menemukan jalannya sendiri.

 

 

Komentar