Borobudur Kedua yang Terlupakan
Saat Gunung Padang Bangkit, Sejarah Dunia Bisa Berubah
ASKARA - Gunung Padang suatu hari nanti berpotensi dicatat dalam sejarah dunia sebagai salah satu temuan arkeologi paling penting di Nusantara, sebagaimana Candi Borobudur yang kembali "lahir" ke hadapan dunia pada awal abad ke-19.
Seperti Borobudur pada 1814, Gunung Padang selama ratusan tahun hanya dikenal masyarakat setempat sebagai bukit batu bertingkat yang diselimuti mitos dan cerita turun-temurun. Vegetasi lebat, tanah longsoran, serta susunan batuan yang tampak alami membuat situs ini lama terabaikan sebagai peninggalan peradaban besar.
Informasi awal tentang keunikan Gunung Padang juga berasal dari pengetahuan lokal, mirip dengan kisah penduduk Kedu yang memberi tahu Thomas Stamford Raffles tentang adanya bangunan besar yang terkubur tanah dan semak belukar. Di Gunung Padang, warga menyebutnya sebagai tempat keramat, bukan sekadar bukit biasa.
Jika kelak penelitian arkeologi dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, publik kemungkinan akan menyaksikan fase demi fase "pembukaan" Gunung Padang:
lapisan tanah yang disingkap, struktur batu yang tersusun rapi, hingga kemungkinan terkuaknya teknologi bangunan kuno yang melampaui zamannya.
Sebagaimana Theodoor van Erp pada awal abad ke-20 mendokumentasikan Borobudur secara detail dari relief runtuh hingga stupa yang nyaris ambruk, para arkeolog Gunung Padang di masa depan diperkirakan akan menghadapi tantangan serupa: menjaga keaslian, menghindari spekulasi berlebihan, dan menempatkan sains di atas sensasi.
Apabila kelak terbukti bahwa Gunung Padang merupakan situs megalitik kompleks dengan usia jauh lebih tua dari perkiraan awal, maka Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai pewaris Borobudur dan Prambanan, tetapi juga sebagai pusat peradaban awal dunia yang lama terkubur waktu.
Sejarah Borobudur mengajarkan satu hal penting:
apa yang hari ini tampak sebagai bukit biasa, bisa jadi esok hari diakui sebagai mahakarya peradaban manusia.
Dan Gunung Padang, seperti Borobudur dua abad lalu, kini berada di titik persimpangan antara mitos, ilmu pengetahuan, dan sejarah yang menunggu untuk dituliskan ulang.

Komentar