Rabu, 17 Juni 2026 | 18:06
Editorial

Ketika Menag RI Mencium Paus di Roma, Dunia Menyaksikan Bahasa Cinta

Ketika Menag RI Mencium Paus di Roma, Dunia Menyaksikan Bahasa Cinta
Ketika Menag RI mencium Paus di Roma (Dok Kemenag)

ASKARA - Di tengah dunia yang kian bising oleh konflik, prasangka, dan klaim kebenaran yang saling meniadakan, sebuah bahasa sunyi kembali mengingatkan manusia pada hakikat iman: kerendahan hati. Bahasa itu hadir dalam sebuah gestur sederhana namun sarat makna, saat Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mencium kepala dan tangan Paus, lalu menyalakan Lilin Perdamaian di Roma.

Peristiwa yang terjadi pada 28 Oktober lalu, dalam peringatan 60 tahun Dokumen Nostra Aetate yang diselenggarakan oleh komunitas Sant’Egidio, bukanlah seremoni biasa. Ia adalah ziarah batin lintas iman. Nostra Aetate lahir dari kesadaran Gereja Katolik bahwa kebenaran ilahi tidak pernah dimonopoli, melainkan berpendar dalam dialog, penghormatan, dan kasih kepada sesama manusia, apa pun keyakinannya.

Dalam tradisi spiritual, mencium kepala adalah tanda penghormatan pada hikmah, sementara mencium tangan adalah pengakuan akan pelayanan. Gestur Menag RI itu bukan simbol subordinasi, melainkan pengakuan bahwa para pemimpin agama sejatinya adalah pelayan kemanusiaan. Di titik inilah iman menemukan wajahnya yang paling jujur: rendah hati, lembut, dan penuh kasih.

Lilin Perdamaian yang dinyalakan Menag RI bukan sekadar nyala api. Ia adalah doa yang menyala. Api kecil yang melawan gelapnya kebencian. Dalam hampir semua tradisi agama, cahaya adalah simbol kehadiran Tuhan yang mengusir ketakutan, menghangatkan yang dingin, dan menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat.

Di dunia yang kerap menjadikan agama sebagai alat pembenaran konflik, momen ini mengajarkan satu hal penting: iman tidak pernah lahir untuk memisahkan, tetapi untuk menyatukan. Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dengan kemarahan, melainkan kesaksian melalui akhlak, kasih, dan kerja perdamaian.

Indonesia, melalui kehadiran Menteri Agamanya, mengirim pesan moral ke dunia: bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan anugerah; bahwa dialog bukan kelemahan, melainkan kekuatan; dan bahwa perdamaian tidak lahir dari teriakan, tetapi dari keberanian untuk saling menghormati.

Pada akhirnya, iman yang sejati tidak diukur dari seberapa keras kita mengklaim kebenaran, melainkan seberapa dalam kita mampu mencintai sesama. Dan pada lilin kecil yang menyala di Roma itu, dunia kembali diingatkan: cahaya Tuhan selalu cukup, asal manusia mau merendahkan hati untuk menjaganya.

 

 

Komentar