Azas Tigor Bongkar Korupsi Penguasa Penyebab Bencana Nasional
ASKARA - Praktik korupsi yang dilakukan penguasa dan pejabat pemerintah disebut menjadi akar dari berbagai bencana ekologis dan pemiskinan rakyat yang terjadi di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan Dr. Azas Tigor Nainggolan, advokat di Jakarta, dalam Catatan Akhir Tahun 2025 bertajuk “Korupsi Penguasa Dalang Segala Bencana di Indonesia”, Senin (29/12/2025).
Menurut Azas Tigor, kerusakan alam yang meluas di Aceh, Sumatera, Sumatera Barat, hingga berbagai daerah lain di Indonesia bukanlah peristiwa alam semata, melainkan akibat langsung dari kerakusan dan korupsi yang dilembagakan oleh penguasa, pejabat pemerintah, dan pemodal.
"Tanah air yang diperjuangkan para pahlawan seperti Sisingamangaraja XII dan Cut Nyak Dien kini dihancurkan oleh bangsa sendiri. Mereka berjuang mempertaruhkan nyawa mengusir penjajah, tetapi hari ini tanah itu dijarah dan dirusak oleh keserakahan penguasa dan pejabat," tegas Azas Tigor.
Ia menilai, korupsi di Indonesia saat ini tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan sudah berlangsung secara terbuka, berantai, dan sistematis.
"Korupsi sekarang dilakukan terang-benderang. Para pelakunya tidak lagi malu atau takut. Bahkan ketika satu kasus terbongkar, itu justru menjadi peluang korupsi bagi pejabat lain dan aparat yang menanganinya," ujarnya.
Azas Tigor juga mengungkap bahwa banyak kasus korupsi sengaja dibiarkan tidak tuntas dan dijadikan alat politik kekuasaan, baik untuk menjatuhkan pejabat tertentu maupun untuk melindungi kepentingan pejabat lain.
"Kasus korupsi dijadikan alat sandera kekuasaan. Dibuka setengah-setengah hanya untuk konsumsi politik dan ekonomi. Bahkan penegakan hukumnya pun sering berubah menjadi lahan basah baru," katanya.
Dalam pandangannya, kolusi antara penguasa, pejabat pemerintah, dan pemodal telah merusak seluruh sendi kehidupan bangsa, mulai dari pengelolaan sumber daya alam hingga aset negara.
"Tidak ada satu jengkal tanah pun di Indonesia hari ini yang bebas dari kebijakan dan perizinan koruptif. Tidak ada jabatan dan ruang publik yang benar-benar steril dari korupsi," lanjut Azas Tigor.
Ia menegaskan bahwa bencana ekologis seperti banjir bandang, banjir perkotaan, kekeringan, krisis sampah, polusi udara, hingga kemacetan merupakan akumulasi panjang dari kebijakan korup yang merusak alam dan memiskinkan rakyat.
"Alam semesta seolah membongkar sendiri kejahatan penguasa karena sudah tidak tahan. Bencana ini adalah peringatan keras bahwa korupsi telah menjadi dalang kehancuran Indonesia," ujarnya.
Menutup catatan akhirnya, Azas Tigor mengajak masyarakat untuk tidak lagi diam dan mulai melawan budaya korupsi, dimulai dari perubahan sikap dan keberanian bersikap kritis.
"Melawan korupsi bisa dimulai dengan melawan keserakahan dalam diri dan berani membela keutuhan ciptaan Tuhan. Kita tidak bisa lagi diam, karena jika diam, kita semua akan menjadi korban berikutnya," pungkasnya.
Catatan tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum menjelang pergantian tahun, sebagai refleksi dan seruan moral untuk menyongsong Tahun Baru 2026 dengan kesadaran kolektif membersihkan Indonesia dari praktik korupsi yang merusak masa depan bangsa.

Komentar