Romantika Sunnah Dalam Rumah Tangga
ASKARA -:Rumah tangga Rasulullah ﷺ bukan sekadar ikatan hukum, melainkan madrasah cinta yang hidup, hangat, dan membumi. Di sana, kasih sayang tidak dipertontonkan sebagai drama, tetapi dihadirkan sebagai ibadah. Setiap sentuhan, perhatian, dan kata mesra bernilai pahala karena dilakukan atas dasar iman, keikhlasan, dan keteladanan kepada Allah Ta‘ala.
Rumah tangga dalam Islam tidak dibangun di atas mitos romantisme ala sinetron atau budaya populer yang sering berlebihan dan rapuh. Islam menghadirkan cinta yang tenang, nyata, dan berumur panjang. Teladan tertingginya adalah kehidupan rumah tangga Rasulullah ﷺ bersama para istri beliau. Apa yang hari ini dianggap “romantis” dalam standar modern, sesungguhnya telah lama dipraktikkan Nabi ﷺ dengan cara yang sangat manusiawi, lembut, dan penuh adab. Semua itu bukan demi pujian, tetapi demi ketaatan kepada Allah dan pengharapan akan pahala-Nya. Allah Ta‘ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. ar-Rūm: 21)
Kemesraan Rasulullah ﷺ bukan kemesraan yang dibuat-buat. Beliau hidup bersama istri, berbagi selimut, makan dan minum dari bejana yang sama, bahkan mandi bersama. ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā menuturkan,
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ ﷺ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ
“Aku pernah mandi bersama Nabi ﷺ dari satu bejana.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim). Dalam riwayat lain, beliau ﷺ minum dari bekas minum ‘Aisyah dan meletakkan mulutnya tepat di tempat bibir istrinya. Ini adalah pelajaran besar bahwa kedekatan fisik yang halal adalah ekspresi cinta yang bernilai ibadah, bukan sesuatu yang tabu atau hina.
Rasulullah ﷺ juga menampakkan cinta melalui perhatian kecil namun mendalam. Beliau menyisir dan merapikan rambut istrinya, membantu pekerjaan rumah, menambal sandal, dan memerah susu. ‘Aisyah berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ
“Rasulullah ﷺ biasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. al-Bukhārī). Ini menegaskan bahwa kejantanan sejati bukan pada sikap keras, melainkan pada kerendahan hati dan kesediaan melayani orang yang dicintai.
Cinta Nabi ﷺ juga tampak dalam kelembutan lisan. Beliau memanggil ‘Aisyah dengan panggilan mesra, berdialog sebelum safar, dan menenangkan istri saat sakit atau sedih. Beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmiżī, Ibnu Mājah). Hadis ini adalah kaidah agung bahwa ukuran kesalehan tidak hanya di masjid, tetapi juga di ruang-ruang sunyi rumah tangga.
Dalam hal pembelaan dan perlindungan, Rasulullah ﷺ berdiri di garda terdepan untuk istrinya. Beliau menutup aib, menjaga kehormatan, dan membela dari prasangka. Ketika istri haid, beliau tetap bermesraan, tidur di pangkuan, dan membaca Al-Qur’an. ‘Aisyah meriwayatkan,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ
“Nabi ﷺ bersandar di pangkuanku ketika aku haid lalu beliau membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim). Ini membongkar stigma keliru bahwa haid adalah penghalang kasih sayang.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan romantisme melalui hadiah dan kejutan yang sederhana namun bermakna. Beliau bersabda,
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad). Hadiah bukan soal nilai materi, melainkan bahasa cinta yang menumbuhkan kelekatan hati.
Semua potret ini menegaskan bahwa sunnah Nabi ﷺ menghadirkan romantika yang kokoh, bukan rapuh oleh waktu. Ia dibangun di atas iman, diikat oleh adab, dan diarahkan untuk meraih ridha Allah. Maka siapa pun yang meneladani beliau dalam rumah tangga, sejatinya sedang menghidupkan ibadah yang panjang. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang mencontoh Rasulullah ﷺ dalam kelembutan, kesetiaan, dan kasih sayang kepada keluarga, hingga rumah kita menjadi jalan menuju surga. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar