Mohon Pamit dan Undur Diri dari Dinas Militer
ASKARA - "Setiap awal pasti ada akhir, dan setiap akhir pasti ada awal yang baru", demikian cuplikan kata bernas Sufi Santosh Kalwar.
Sejak hadir tampak muka dan mengakhiri tampak punggung dengan langkah tegap, saya tuliskan pengalaman unik antara 2 barisan sebagai Pastor Katolik di bawah perutusan Uskup Militer dan pengabdian sebagai bhayangkari negara di bawah kesatuan mliter matra udara.
Dua panggilan berjalan di dadaku — jubah imam dan seragam perwira — dan selama dua puluh sembilan tahun itu saya belajar satu pelajaran sederhana: pelayanan adalah napas yang tak pernah meminta panggung.
Di setiap satuan kerja dinas aktif, di setiap pelayanan sakramental gereja yang bergulir dari hari ke hari sampai tahun ke-29 kutemukan wajah-wajah yang mengajarkanku arti tetap hadir, ikhlas, sabar, teguh dalam derita, sukacita dalam doa, setia dalam berpengharapan. Bahwa disana tetap ada kerinduan menemani kecemasan, ada kehadiran menguatkan yang goyah dan membutuhkan uluran tangan.
Inilah khazanah pengabdian yang kubawa pulang sebagai akhir penugasn perpanjangan tangan Uskup Militer — bukan sebagai trofi, melainkan sebagai cerita yang tak lekang oleh waktu.
Purna tugas bukanlah kata akhir. Ia seperti fajar yang meredupkan lampu-lampu pos pagi: tugas formal usai, namun panggilan terus bernyala dalam segala cara yang baru sebagai pelita di tengah malam. Karena hal terpenting dalam perutusan adalah sehati-seperasaan dengan perutusan Gereja (baca: Sentire Cum Ecclesia)
Saya akhiri dinas resmi ini pada 30 November 2025 dengan rasa syukur yang dalam—syukur atas kesempatan untuk menjadi pendamping, penuntun, dan sahabat bagi para prajurit TNI - Polri dan umat Allah.
Dalam perjalanan itu, saya sempat mencatat hal-hal kecil yang menjadi besar: pesan ibunda—“setyo lan suci” (setia dan suci)—yang masih terngiang setiap kali saya berdiri di memberikan komuni suci; momen-momen liturgi dalam Perayaan Ekaristi, doa yang dilantunkan di sela pelatihan militer. Karya berbalut doa itu bagai nyanyian yang mengubah sunyi jadi persekutuan. Semua itu membentuk orkestrasi sekaligus lukisan hidup yang kurawat dengan rasa syukur.
Biarkan kututup lembar dinas dengan sebuah gambaran yang tak asing: “The old soldier never die, they just fade away.”
Tapi saya menambahkan: tentara lama mungkin meredup dari garis depan - namun nilai-nilai, doa dan teladan tak serta-merta pudar - mereka menyusup ke dalam generasi yang kutinggalkan, melekat pada langkah-langkah yang baru, dan menjadi doa yang tak henti-henti.
Perjalanan bersama para prajurt TNI AU, TNI dan Polri tidak akan pernah pudar. Dari altar suci bergerak keluar menuju pasar dan latar. Di purna tugas kini pendulum itu berbalik arah: Dari pasar dan latar kembali lagi ke altar suci, pada jalan kekudusan, dari gerak komando menjadi aksi dan saksi iman.
Kepada rekan-rekan di Angkatan Udara, Mabes TNI, AAU dan kepada umat yang kutemui di arena tugas kategorial TNI dan Polri maupun teritorial dalam dinas aktif, kepada keluarga besar Martowinoto dan Suryomursandi yang dengan sabar mendukung dalam doa dan karya, kumohon terima kasihku yang paling tulus.
Terima kasih untuk kepercayaan yang diberikan kepadaku untuk menjaga hidup rohani bersama Bapak Uskup TNI dan Polri (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) sekaligus martabat kemanusiaan dalam lingkungan disiplin.
Terima kasih untuk setiap pelukan, setiap salam, setiap koreksi yang membuatku lebih rendah hati.
Bila ada yang ingin kuwariskan dalam kata singkat: hiduplah sebagai pelayan. Biarkan tindakan kecilmu menjadi doa untuk yang lain. Jadilah saksi kebaikan yang tak gaduh, yang keberadaannya dikenang bukan karena gemerlap, melainkan karena keteguhan.
Dan bila suatu hari kata purna tugas datang juga padamu — ingatlah: kita bukanlah cerita yang usai, melainkan benang yang terus menenun.
Saya tetap hadir sebagai Pastor Paroki Halim Perdanakusuma, sebagai Wakil Uskup OCI, hadir di setiap kesempatan baru selaku mediator, inspirator, organisator, motivator ... dan terpenting sebagai pastor, gembala umat. Setia hingga akhir hayat.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar