Rabu, 22 Juli 2026 | 04:26
COMMUNITY

Festival Nenggeri Linge 2025 Siap Digelar: Angkat Identitas Budaya Melayu Tua dan Peradaban Aceh

Festival Nenggeri Linge 2025 Siap Digelar: Angkat Identitas Budaya Melayu Tua dan Peradaban Aceh
Festival Nenggeri Linge 2025 masyarakat Gayo (Dok Zam Zam)

ASKARA - Festival Nenggeri Linge 2025 kembali digelar sebagai agenda budaya tahunan yang memiliki nilai penting dalam pelestarian identitas dan sejarah masyarakat Gayo. Festival ini telah sukses dilaksanakan pada tahun 2024, dan tahun ini diharapkan menjadi momentum yang lebih besar bagi pengembangan sektor pariwisata dan pemajuan kebudayaan daerah.

Ketua Umum Pasak Opat Nenggeri Linge, Zam Zam Mubarak, menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan festival tahun ini. Menurutnya, Festival Nenggeri Linge telah menunjukkan kapasitas sebagai event budaya berskala besar dan sudah layak masuk dalam agenda wisata nasional.

“Event ini sudah menjadi agenda tahunan dan ke depan harus menjadi atraksi wisata nasional. Pemerintah daerah perlu terlibat lebih aktif karena Linge memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa, dan berada dalam kawasan pengembangan Kota Terpadu Mandiri Ketapang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (24/11).

Festival Nenggeri Linge 2025 menampilkan berbagai atraksi budaya Melayu Tua yang menjadi akar sejarah peradaban Aceh. Zam Zam menegaskan bahwa Linge merupakan titik awal berdirinya Kerajaan Aceh, sehingga keberadaannya memiliki peran penting bagi identitas sejarah bangsa.

“Festival ini sekaligus membuka tabir sejarah besar Aceh dan nasional. Kerajaan besar Aceh berawal dari Linge. Karena itu, Pemda harus segera menetapkan Linge sebagai kawasan cagar budaya nasional,” tegasnya.

Salah satu momentum penting dalam penyelenggaraan festival ini adalah kehadiran Reje Linge ke XXI yang dianggap memperkuat marwah adat dan legitimasi sejarah Gayo. Kehadirannya dinilai sebagai simbol kebangkitan tatanan adat dan warisan kerajaan Linge di era modern.

Zam Zam juga menyoroti kondisi kawasan Linge yang memiliki banyak objek sejarah namun belum tertata baik. Ia mengingatkan bahwa hamparan warisan sejarah tersebut harus segera diselamatkan dari ancaman kerusakan dan alih fungsi yang dapat menghilangkan jejak peradaban penting di wilayah Gayo.

“Pemerintah pusat harus melihat Aceh bukan hanya dari Banda Aceh, tetapi juga dari Linge. Titik nol peradaban Aceh dimulai dari Linge,” katanya.

Ia berharap Festival Nenggeri Linge 2025 menjadi katalisator pengembangan pariwisata strategis nasional dataran tinggi Gayo sekaligus menguatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pelestarian sejarah.

“Kehadiran Reje Linge ke XXI dan atraksi wisata Melayu Tua akan menjadi simbol kebangkitan budaya dan sejarah Linge. Semoga pemerintah daerah dan pusat dapat memberi perhatian serius terhadap potensi Linge sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang penting,” tutup Zam Zam Mubarak.

 

Komentar