Rabu, 17 Juni 2026 | 15:32
NEWS

PBNU dalam Krisis Internal yang Menyakitkan

PBNU dalam Krisis Internal yang Menyakitkan
Ilustrasi

ASKARA -:PBNU kini tengah memasuki masa paling kritis dalam sejarah modernnya. Permintaan mundur untuk Ketua Umum, desakan dari Syuriyah, serta kegelisahan pengurus wilayah menciptakan kegoncangan tak hanya di struktur organisasi, tetapi di hati jamaah Nahdliyin di seluruh Nusantara.

Dalam pengamatan komunitas Nahdliyin yang lebih luas termasuk kiai pesantren, aktivis NU, dan pengurus wilayah dinamika internal PBNU belakangan menimbulkan keprihatinan serius. Konflik ini bukan sekadar perselisihan birokrasi, melainkan ujian integritas dan arah jam’iyyah besar yang selama ini menjadi tulang punggung tradisi keilmuan.

Isu memuncak setelah Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tanggal 20 November 2025 beredar luas. Menurut laporan Detik pada 21 November 2025, risalah itu berisi keputusan Rais ‘Am KH Miftachul Akhyar dan para wakilnya agar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengundurkan diri dalam waktu tiga hari. 

Salah satu pertimbangan utama desakan itu adalah isu Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU). Dalam risalah yang sama, Syuriyah menyoroti narasumber AKN NU yang dinilai memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme internasional. Detik mengutip Risalah bahwa tindakan tersebut dianggap melanggar nilai Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus Muqaddimah Qanun Asasi NU. 

Menanggapi desakan tersebut, Gus Yahya tegas menolak akan mundur. Dalam wawancara di Surabaya, yang dilaporkan Detik pada 23 November 2025, ia mengatakan tidak pernah terbesit pikiran mundur karena amanah lima tahun yang diembannya melalui Muktamar ke-34. 

Lebih jauh, dalam pernyataan yang sama, Gus Yahya menyebut bahwa beberapa anggota Syuriyah menyesali keputusan meminta pengunduran dirinya. Ia menyatakan bahwa setelah mendapat penjelasan “utuh dan transparan,” Syuriyah menyatakan penyesalan dan siap membuka saluran dialog dengan kiai sepuh demi suara moral. 

Di tengah gejolak itu, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyuarakan ajakan agar seluruh pengurus NU tetap bersabar dan menjaga keteduhan. Dalam liputan Detik tanggal 21 November 2025, Gus Ipul menegaskan bahwa persoalan ini adalah dinamika organisasi yang wajar dan harus diselesaikan sesuai mekanisme internal. 

Sementara itu, desakan agar Muktamar NU digelar kembali turut mencuat. Menurut laporan Detik pada 23 November 2025, mantan Katib ‘Am Syuriyah, Malik Madani, menyebut bahwa krisis saat ini merupakan kelanjutan dari ketegangan sejak Muktamar Alun-alun Jombang 2015. 

Dukungan terhadap keputusan Syuriyah juga datang dari publik yang tergugah. Berdasarkan laporan RMOL pada 22 November 2025, dukungan untuk desakan mundur Gus Yahya tumbuh di media sosial setelah risalah beredar, dengan warganet menyerukan “kembalinya marwah NU” dan penyembuhan internal. 

Komunitas Nahdliyin yang lebih luas tentu merasakan kegelisahan dari pertempuran ini. Mereka khawatir jam’iyyah yang seharusnya menjadi sumber stabilitas moral dan spiritual kini justru terpecah oleh konflik kepemimpinan. Mesin organisasi struktur, komunikasi, dan legitimasi moral tampak terguncang.

Salah satu poin paling menyakitkan adalah pertanyaan nilai: jika Syuriyah menuduh adanya narasumber Zionis dan pelanggaran keuangan dalam AKN NU, maka ini bukan hanya persoalan administrasi, tetapi persoalan marwah organisasi. Komunitas Nahdliyin menilai bahwa PBNU harus mempertimbangkan kembali cara menyelenggarakan agenda kaderisasi agar tidak menodai reputasi moral yang selama ini menjadi aset utama.

Dalam suasana demikian, sejumlah tokoh pesantren dan pelaku kaderisasi berharap agar para pemimpin tertinggi NU segera bertindak dengan arif. Dialog dengan kiai sepuh, rekonsiliasi struktural, dan pemurnian tata kelola harus menjadi langkah awal penyembuhan.

Walaupun suasana saat ini tampak suram, ada sinyal harapan: pertemuan antara Gus Yahya dan pengurus wilayah (PWNU), keterbukaan untuk dialog moral, serta desakan Muktamar segera digelar merupakan ruang bagi jam’iyyah ini untuk memperbaharui dirinya dari dalam.

Dalam satu abad perjalanan NU, konflik seperti ini memang tidak ringan. Tetapi komunitas Nahdliyin yang mencintai organisasi ini berharap bahwa ujian kali ini tidak menjadi patahan, melainkan momentum perubahan. Agar PBNU kembali menemukan arah, memperkuat marwah, dan memperkuat fungsinya sebagai rumah bersama bagi seluruh nahdliyin. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar