Senin, 15 Juni 2026 | 17:37
COMMUNITY

Indonesia dan Suriname Bersatu Dukung "Praktik Menulis Aksara Tradisional" Menuju Warisan Budaya Takbenda Unesco

Indonesia dan Suriname Bersatu Dukung
FGD Komunitas Aksara Indonesia dan Suriname (dok ASKARA)

ASKARA – Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia dan komunitas Aksara Arab Pegon serta Jawa di Suriname sukses menggelar  Forum Group Discussion (FGD) - Tahap I, pada : Sabtu, 1 November 2025. Pertemuan yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo ini menandai langkah maju dalam upaya bersama menominasikan aksara tradisi kedua bangsa sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO.

​Format Lintas Waktu dan Ruang

​FGD ini diselenggarakan dalam format hibrida, menghubungkan peserta secara daring dan luring. Para pegiat budaya di Indonesia bergabung pada pukul 20.00 WIB melalui platform Zoom Meeting, sementara partisipan di Suriname hadir secara tatap muka tersebut dipimpin langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priyono, di KBRI Paramaribo, Van Brusellaan #3, Uitvlugt, yang saat itu menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat.

​Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci dan pakar aksara, menunjukkan dukungan kuat dari berbagai pihak terhadap inisiatif pelestarian ini.

​Tujuan Utama: Naskah Bersama untuk UNESCO

​Fokus utama diskusi adalah menyusun naskah nominasi bersama (joint nomination) yang kuat untuk diajukan ke UNESCO. Indonesia yang akan mengusung tradisi baca-tulis seluruh aksara  warisan leluhur nusantara yang masih eksis dan dipraktikan dalam berbagai kesempatan, sedangkan Suriname akan mengusung  Aksara Arab Pegon dan Jawa (Hanacaraka), yang dibawa oleh leluhur mereka dari Pulau Jawa ke Suriname pada akhir abad ke-19, adalah cerminan hidup dari diaspora budaya dan identitas yang terus bertahan melintasi generasi dan geografi.

​"Kolaborasi antara komunitas di Indonesia dan Suriname merupakan langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang warisan aksara, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sejarah dan budaya antara dua negara, menjadikannya bukti nyata dari Warisan Budaya Takbenda yang hidup dan lestari," ujar Agus Priyono dalam sambutannya.

​Poin Kunci Diskusi

​FGD membahas beberapa agenda utama untuk memastikan naskah nominasi memenuhi kriteria ketat UNESCO ICH, termasuk:

▪︎ ​Definisi dan Signifikansi: Penguatan definisi "Praktik Menulis Aksara Tradisional", termasuk Aksara Arab Pegon dan Jawa (Hanacaraka) sebagai praktik budaya dan identitas yang berkelanjutan di Suriname.

▪︎ ​Pembagian Peran: Penentuan peran dan kontribusi masing-masing komunitas dan lembaga dalam pengumpulan data historis, dokumentasi, dan bukti lisan.

▪︎ ​Strategi Konservasi: Diskusi mengenai program pelestarian, pengajaran, dan regenerasi pengguna aksara di kedua negara pasca-nominasi.

​Partisipasi aktif dari para undangan, yang merupakan pakar di bidang aksara dan warisan budaya, diharapkan dapat menghasilkan rumusan draf awal yang komprehensif dan solid.

​Menuju Langkah Berikutnya

​Kesuksesan FGD ini memberikan momentum baru dalam upaya pengajuan Warisan Budaya Takbenda. Kolaborasi erat yang terjalin antara komunitas Indonesia dan Suriname menjadi model bagaimana diaspora dapat menjadi kekuatan pendorong dalam pelestarian budaya global. Hasil diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim teknis gabungan untuk finalisasi naskah nominasi.

Komentar