Azas Tigor Nilai Pemerintah Sebaiknya Prioritaskan Pengembangan Whoosh ke Surabaya
ASKARA - Analis kebijakan transportasi Dr. Azas Tigor Nainggolan menilai pemerintah sebaiknya memprioritaskan pengembangan proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) Whoosh hingga ke Surabaya dibandingkan penyertaan modal tambahan untuk maskapai Garuda Indonesia. Menurutnya, prospek bisnis Whoosh jauh lebih menjanjikan dan memiliki mekanisme pembayaran utang yang jelas, sementara Garuda masih terjebak dalam persoalan utang dan korupsi yang kompleks.
Dalam siaran pers yang diterima redaksi pada Sabtu (1/11), Azas menjelaskan bahwa dua alat transportasi publik milik negara saat ini tengah dibelit masalah besar: hutang KCIC Whoosh sebesar Rp 120 triliun kepada Cina dan hutang Garuda Indonesia sebesar Rp 185 triliun kepada berbagai pihak. Keduanya, kata dia, juga tak lepas dari isu korupsi dan pembengkakan biaya yang berpotensi merugikan negara.
“KCIC Whoosh punya prospek lebih realistis karena sudah mencatat 12 juta pengguna sejak beroperasi tahun 2023 hingga Oktober 2025. Dengan performa bisnis seperti itu, Cina pun bersedia memperpanjang tenor pembayaran hingga 60 tahun, dengan cicilan Rp 2 triliun per tahun mulai 2026,” ujar Azas.
Sebaliknya, Garuda dinilai masih kesulitan bangkit meski pemerintah berencana menyuntikkan dana Rp 30 triliun melalui BPI Danantara. Menurut Azas, langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang membuat Garuda terus terpuruk. “Suntikan dana hanya akan habis untuk menutup lubang korupsi lama. Pemerintah seharusnya fokus membangun kepercayaan mitra bisnis dan menuntaskan kasus korupsi yang melilit Garuda,” tegasnya.
Azas juga menilai bahwa pelita Air yang kini dihidupkan kembali menunjukkan performa lebih baik dibanding Garuda yang “terbang dengan luka hutang.” Ia menyoroti bahwa Garuda kini hanya mampu mengoperasikan sekitar 40 pesawat akibat sulit mendapatkan kepercayaan dari perusahaan penyewa pesawat.
Dari sisi kelayakan bisnis, lanjut Azas, Whoosh memiliki potensi besar untuk berkembang karena konsepnya sebagai layanan transportasi massal modern. “Jika rute diperpanjang hingga Surabaya, potensi peningkatan pengguna akan signifikan. Semakin panjang lintasan dan besar volume pengguna, semakin kuat bisnisnya,” jelasnya.
Karena itu, ia menyarankan agar pemerintah mengalihkan dana Rp 30 triliun yang direncanakan untuk Garuda menjadi modal awal pembangunan lanjutan Whoosh ke Surabaya. “Dana sebesar itu akan lebih produktif bila digunakan memperluas jaringan Whoosh. Bisnis transportasi publik seharusnya tidak rugi—jika rugi, artinya ada korupsi di dalamnya,” pungkas Azas Tigor Nainggolan.

Komentar