Rabu, 17 Juni 2026 | 19:45
Editorial

Keteguhan Prinsip di Tengah Tekanan Dunia

Keteguhan Prinsip di Tengah Tekanan Dunia
Ilustrasi

ASKARA - Di tengah sorotan kamera dan hiruk-pikuk wartawan, Erick Thohir berbicara dengan nada tenang namun tegas. “Kita berpegang pada UUD 1945,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/10). Kalimat sederhana itu menggema jauh melampaui ruang konferensi pers, menjadi simbol keteguhan Indonesia di tengah tekanan dunia olahraga internasional.

Pernyataan tersebut bukan sekadar diplomasi politik, melainkan pernyataan moral sebuah bangsa. Saat Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengancam akan “mem-blacklist” Indonesia karena menolak memberi visa kepada tim Israel, pemerintah memilih berdiri di sisi prinsip, bukan kepentingan pragmatis. Erick Thohir menegaskan, setiap kebijakan pemerintah harus berakar pada konstitusi dan nilai kemanusiaan universal.

> “Langkah ini sesuai dengan UUD 1945 yang menghormati keamanan, ketertiban umum, serta kewajiban Indonesia menegakkan ketertiban dunia,” ujar Erick dalam keterangan resminya (MetroTVNews.com, 23/10/2025).

Keputusan ini memperlihatkan keberanian moral di tengah tekanan global. Dalam dunia yang kerap mengukur segalanya dengan popularitas dan keuntungan, Indonesia memilih menegakkan nilai dasar kemerdekaan: menolak segala bentuk penjajahan. Sikap ini bukan sekadar retorika diplomatik, tapi refleksi dari amanat konstitusi yang hidup di hati bangsa.
Sejak era Soekarno, Pembukaan UUD 1945 telah menegaskan: “Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.” Menolak delegasi dari negara penjajah bukanlah permusuhan terhadap bangsa tertentu, tetapi konsistensi terhadap prinsip yang diwariskan para pendiri republik.

Namun keputusan itu tentu tidak tanpa konsekuensi. IOC telah memperingatkan agar federasi olahraga internasional meninjau kembali kerja sama dengan Indonesia. Banyak yang menilai langkah ini berisiko besar terhadap reputasi olahraga nasional. Tapi di sisi lain, keputusan tersebut menunjukkan kemandirian Indonesia dalam menentukan arah kebijakan tanpa harus tunduk pada tekanan internasional.
Pemerintah memilih menjaga kedaulatan moral daripada menukar integritas dengan tepuk tangan dunia.

> “Tugas pemerintah adalah memastikan setiap langkah kebijakan tetap berada dalam koridor UUD 1945,” tegas Erick (Kompas.com, 23/10/2025).

Publik pun menunjukkan respons positif. Di media sosial, banyak warga menyatakan dukungan bahwa dana besar yang semula dialokasikan untuk ajang internasional lebih baik diarahkan untuk pembinaan atlet lokal. “Lebih baik uangnya dipakai buat melatih atlet daerah daripada buat event sekali lewat,” tulis salah satu warganet yang dikutip Tempo.co (23/10/2025).
Pandangan itu mencerminkan kesadaran baru: prestasi olahraga tidak harus dimulai dari panggung dunia, tetapi dari fondasi yang kuat di rumah sendiri dari lapangan-lapangan kecil di desa hingga gelanggang latihan di pelosok.

Langkah ini juga memberi momentum untuk mengevaluasi arah pembangunan olahraga Indonesia. Sudah saatnya pemerintah fokus memperkuat ekosistem olahraga akar rumput: memperbanyak kompetisi daerah, memperbaiki sarana pelatihan, dan menumbuhkan kemandirian atlet. Dengan cara itu, kehormatan bangsa tidak bergantung pada status tuan rumah ajang global, tetapi pada daya saing yang tumbuh dari semangat sendiri.

Menariknya, Indonesia tidak sendirian menghadapi dilema semacam ini. Beberapa negara di masa lalu, seperti Malaysia dan Afrika Selatan, juga pernah menolak partisipasi tim dari negara yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan. Sikap moral memang sering dibayar mahal di panggung global. Tapi sejarah selalu mencatat bangsa yang berani menegakkan kebenaran, bukan yang menunduk pada tekanan.

Bagi Erick Thohir, keputusan ini bukan sekadar soal olahraga, tetapi ujian kepemimpinan. Kepemimpinan sejati tidak diukur dari popularitas, melainkan dari kesetiaan pada nilai dasar yang diamanatkan bangsa. Ia memilih langkah sulit, namun bermartabat: menegakkan konstitusi ketika banyak pihak lebih memilih jalan aman.

> “Dunia boleh tak sepakat, tapi mereka akan menghormati kita,” ujarnya singkat namun sarat makna (CNBC Indonesia, 23/10/2025).

Sikap Indonesia ini menjadi pengingat penting bahwa menjadi bagian dari komunitas global tidak harus berarti menyerahkan prinsip. Dalam diplomasi modern yang sering tumpang tindih antara kepentingan ekonomi dan moral, keberanian untuk berkata “tidak” demi kebenaran adalah bentuk kedewasaan bangsa.

Bila harga mempertahankan konstitusi adalah kehilangan event olahraga internasional, maka itulah harga kemerdekaan yang sesungguhnya kemerdekaan untuk berdiri tegak di atas nilai sendiri. Sebab pada akhirnya, bukan medali atau sorotan kamera yang akan dikenang, melainkan keteguhan Indonesia menjaga jati dirinya di tengah badai tekanan dunia.

Dalam dunia yang sering menjual prinsip demi popularitas, Indonesia memilih tetap tegak berdiri. Dan dari sikap itu, dunia belajar bahwa sebuah bangsa bisa kuat bukan karena kekuasaan atau kekayaan, tetapi karena keyakinan pada nilai yang tak tergoyahkan: kedaulatan moral di atas segala kepentingan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar