Senin, 15 Juni 2026 | 19:02
NEWS

Gunung Padang dan Kontestasi Pengetahuan: Antara Klaim Piramida Tertua dan Skeptisisme Barat

Gunung Padang dan Kontestasi Pengetahuan: Antara Klaim Piramida Tertua dan Skeptisisme Barat
Wisatawan dari Jakarta ketika mengunjungi Gunung Padang di Cianjur (Dok Askara)

ASKARA - Kontroversi seputar Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat kembali memantik perdebatan publik setelah peneliti geologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja, mempublikasikan temuannya dalam jurnal ilmiah Archaeological Prospection. Dalam riset tersebut, Danny menyebut struktur megalitik Gunung Padang kemungkinan berusia lebih dari 25.000 tahun, jauh melampaui usia Piramida Giza di Mesir yang dibangun sekitar 4.500 tahun lalu. Klaim ini, jika terbukti, akan mengguncang peta sejarah peradaban dunia.

Namun, sejumlah arkeolog dan peneliti asing merespons dengan skeptis. Beberapa pakar arkeologi Barat menilai metode penanggalan yang digunakan tim Danny masih perlu diuji lebih lanjut. Mereka berargumen bahwa keberadaan batuan dan lapisan tanah kuno di Gunung Padang tidak otomatis menunjukkan adanya peradaban canggih, melainkan bisa saja merupakan fenomena geologi alami yang dimanfaatkan masyarakat prasejarah sebagai situs ritual. Dengan kata lain, struktur tersebut belum cukup bukti untuk disebut piramida buatan manusia.

Di tengah silang pendapat itu, pemerintah Indonesia mengambil langkah penting. Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi membentuk Tim Kajian dan Pemugaran Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional Gunung Padang melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 278/Sipers/K4/HM.01.00/2025. SK tersebut diserahkan langsung kepada Dr. Ali Akbar yang ditunjuk sebagai Ketua Tim, di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Kehadiran tim ini menandai komitmen negara untuk melakukan kajian ilmiah yang lebih sistematis sekaligus pemugaran yang terukur, sehingga perdebatan dapat diarahkan pada data, bukan semata opini.

Tetapi, di balik perdebatan ilmiah ini, muncul pertanyaan yang lebih luas, mengapa penolakan datang begitu keras dari sebagian komunitas arkeologi internasional? Sebagian pengamat menilai bahwa sikap hati-hati, atau bahkan resistensi, dari kalangan ilmuwan Barat bukan semata-mata karena ketidakpercayaan, melainkan karena konsekuensi besar yang akan lahir jika klaim itu diterima. Mengakui bahwa peradaban maju telah ada di Nusantara puluhan ribu tahun lalu akan menantang paradigma sejarah global yang selama ini menempatkan Mesopotamia, Mesir, dan Lembah Indus sebagai pusat awal kebudayaan manusia.

Meski demikian, menuduh para peneliti asing sengaja menutup-nutupi kebenaran juga perlu dihindari. Dunia ilmiah bekerja dengan mekanisme verifikasi ketat. Klaim luar biasa seperti usia 25.000 tahun memang menuntut bukti yang luar biasa pula. Keraguan para arkeolog bukan berarti penyangkalan politis, tetapi bagian dari proses ilmiah agar temuan ini dapat diuji secara independen dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa narasi dominasi pengetahuan, di mana teori sejarah dunia kerap dibentuk oleh pusat-pusat akademik Barat, menciptakan dinamika kuasa tersendiri. Di sinilah Gunung Padang menjadi bukan sekadar situs arkeologi, melainkan simbol perebutan otoritas sejarah. Peneliti Indonesia memiliki peluang langka untuk menunjukkan bahwa Asia Tenggara, khususnya Nusantara, mungkin menyimpan babak peradaban manusia yang lebih tua dan kompleks dari yang selama ini diyakini.

Pada akhirnya, yang diperlukan bukanlah saling curiga, melainkan kolaborasi riset internasional yang transparan. Dengan adanya Tim Kajian dan Pemugaran yang dipimpin Dr. Ali Akbar, proses pembuktian dapat berjalan lebih ilmiah. Jika memang Gunung Padang menyimpan jejak peradaban purba, bukti-bukti ilmiahnya akan berbicara sendiri, melampaui batas negara dan kepentingan geopolitik. Pertanyaan yang seharusnya kita kejar bukan hanya siapa yang benar, tetapi bagaimana temuan ini bisa memperkaya pemahaman kita tentang sejarah manusia, dan menempatkan Indonesia sebagai bagian penting dalam peta peradaban dunia.

 

 

Komentar